Sebab, dari laporan terakhir yang diberikan manajemen pada Januari 2016 kemarin, kemajuan proyek smelter perusahaan tambang asal Amerika tersebut baru berkisar 14 persen.
"Mana mungkin 2017 terbangun meski dikebut gimana pun (juga). Progress-nya saja baru berapa persen," ujar Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM M. Hidayat di Jakarta, Rabu (17/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajemen sendiri menaksir proyek smelter perseroan akan menelan biaya hingga US$2,3 miliar.
Berangkat dari hal itu, Hidayat pun meminta Freeport Indonesia segera merevisi rencana kerja proyek smelter, seiring dengan adanya wacana pemerintah yang akan mengkaji ulang mengenai batas waktu mengenai larangan ekspor biji mineral mentah yang awalnya akan diterapkan secara konsisten pada 2017.
"Kan (kajian) sedang dibahas dalam rancangan UU Minerba. Kedepan nilai tambah seperti apa. Smelter dibangun seperti apa," tutur Hidayat.
Menanggapi imbauan ini, Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan pihaknya akan secara berkala melaporkan kemajuan proyek smelter perseroan.
"Kami secara berkala memberikan update rencana dan progres pembangunan smelter kepada ESDM 6 bulan lalu dan 6 bulan ke depan," ujar Riza. (gen)