Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen Astra Agro menyatakan bermaksud untuk menerbitkan tidak lebih dari 450 juta saham baru dan mengestimasikan bahwa dana yang akan diperoleh sekitar Rp 4 triliun.
“PT Astra International Tbk telah mengindikasikan niatnya untuk melaksanakan HMETD miliknya menjadi saham yang mewakili 79,68 persen dari Saham Baru dan bertindak sebagai pembeli siaga untuk sisa Saham Baru yang tidak diambil bagian dalam penambahan modal dengan memberikan HMETD,” tulis manajemen, dikutip Kamis (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajemen Astra Agro akan menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari penambahan modal dengan memberikan HMETD setelah dikurangi dengan seluruh komisi-komisi, biaya-biaya, ongkos-ongkos dan pengeluaran-pengeluaran lainnya), untuk pelunasan kewajiban utang.
Hingga akhir 2015, jumlah liabilitas atau kewajiban total Astra Agro mencapai Rp9,81 triliun, naik 45,98 persen dari Rp6,72 triliun pada tahun 2014.
Guna melancarkan rencana tersebut, perseroan bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari Senin, tanggal 11 April 2016 dalam rangka persetujuan peningkatan modal dengan memberikan HMETD.
Harga Saham Tertekan
Sayangnya, karena kinerja sepanjang 2015 yang buruk dan rumor rendahnya harga rights issue, harga saham dengan kode AALI ini tertekan hari ini. Hingga pukul 14.30 WIB, harga saham AALI telah jeblok 9,8 persen menjadi Rp14.925 per lembar dari Rp16.575 di perdagangan sebelumnya.
“Selama belum ada kejelasan di harga berapa rights issue, maka akan ada perhitungan-perhitungan dari investor. Jika memang benar di Rp8.800 per lembar maka bisa saja turun ke sana,” jelasnya di Jakarta.
Dari sisi kinerja keuangan laba bersih Astra Agro pada tahun 2015 anjlok 75,28 persen menjadi Rp619 miliar dari Rp2,5 triliun pada periode yang sama tahun 2014.
Kinerja perusahaan yang lesu pada tahun 2015 tersebut disebabkan oleh beberapa hal, pertama adalah penurunan penjualan CPO sehingga menyebabkan pendapatan Utama Perseroan pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 19,93 persen menjadi Rp13,06 triliun dari Rp16,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, terdapat kerugian kurs yang sangat besar pada tahun 2015 yaitu mencapai Rp580,37 miliar. Jumlah itu naik dari rugi kurs Rp126,68 miliar pada 2014. (gen)