Untuk diketahui, unit link merupakan produk asuransi yang memberikan manfaat perlindungan (proteksi) dan investasi bagi pemegang polis.
Berdasarkan data AAJI (belum diaudit/unaudited), tahun lalu pertumbuhan premi asuransi unit link mencapai 8,73 persen menjadi Rp72,34 triliun. Angka itu lebih tinggi dari total peningkatan premi produk asuransi tradisional, 4,08 persen, dengan total nilai sebesar Rp56,32 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Optimisme Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa BCA ini ditopang oleh membaiknya bisnis asuransi secara keseluruhan. Bahkan, disebutnya, AAJI memperkirakan bisnis asuransi jiwa bisa tumbuh hingga 16 persen tahun ini. Hal itu didukung oleh adanya tren penurunan suku bunga bank, rendahnya tingkat inflasi, dan volatilitas di pasar modal.
Dari sisi total premi, tahun lalu, premi unit link mendominasi sekitar 60 persen dibandingkan produk tradisional. Namun, dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan premi baru unit link mengalami penurunan.
“Hal ini menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Menurut Christine, beberapa tantangan dalam memasarkan produk unit link di Indonesia antara lain masih rendahnya kesadaran berasuransi dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai investasi, khususnya unit link, dan masih terbatasnya profesionalisme dan kualitas agen penjual asuransi (financial advisor) masih. Selain itu, desain produk harus terus ditingkatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
“Untuk memperdalam pasar, kami harus membuka pasar yang bawah dengan menjual premi yang lebih murah. Sekarang ada yang sudah mulai menjual premi (unit link) Rp500 ribu sebulan,” ujarnya.