Seperti dikutip dari Reuters, hal itu terjad karena optimisme bahwa para produsen utama akan membekukan produksi bulan depan di tengah meningkatnya ekspor minyak mentah dan permintaan bensin di Negeri Paman Sam.
Pelemahan indeks dolar AS setelah keputusan Federal Reserve pada Rabu yang menunjukkan dua kenaikan suku bunga tahun ini, juga menarik pembeli minyak yang menggunakan mata uang seperti euro.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan upaya pengendalian pasokan dikoordinasikan dari pertemuan ini, dengan asumsi itu bahkan terjadi, telah menempatkan situasi pasar lesu di area defensif," kata Pete Donovan, broker Liquidity Energy di New York.
Pada perdagangan Kamis, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka CLc1 ditutup naik US$1,74, atau 4,5 persen, pada US$40,20 per barel, setelah mencapai level tertinggi 2016 di angka US$40,26.
"Untuk saat ini, pasar tetap didukung. Level ini akan sulit untuk kembali ke posisi terendah tahun ini," kata Olivier Jakob, analis minyak di Petromatrix. (gir/gir)