Ketua BPS Suryamin mengatakan deflasi itu disebabkan oleh diturunkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp500 per liter untuk jenis Premium dan Solar mulai 1 April 2016. Kebijakan tersebut dianggap sebagai salah satu penyumbang deflasi utama, yaitu sebesar 3,38 persen terhadap total deflasi bulan tersebut.
"Penurunan harga energi ini terjadi di 82 kota dengan angka deflasi sebesar 6,61 persen. Ini turunnya sangat besar sekali, sehingga baru kali ini sejak 2000 deflasi pada April bisa mencapai 0,45 persen," jelas Suryamin di Jakarta, Senin (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasilnya, barang-barang kebutuhan, khususnya pangan, juga ikut turun. Ini artinya harga masih tetap terkendali," jelasnya.
"Hampir semua bahan pangan mengalami penurunan harga, bahkan beras di tingkat eceran juga mengalami penurunan harga yang mengalami deflasi 1,47 persen apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ini karena adanya musim panen di awal tahun," tambahnya.
"Tapi ini menjelang hari raya dan puasa, supply harus bisa memenuhi demand agar harga masih bisa dikendalikan," tambahnya.
Sebagai informasi, deflasi April ini tercatat 3,6 persen secara tahunan dan menyebabkan inflasi year-to-date 2016 sebesar 0,16 persen. (gen)