Vice President Director Toyota Warih Andang Tjahjono mengaku baru bisa melakukan ekspor pada Maret 2016 lalu karena menunggu rilis mobil jenis All New Fortuner dan All New Kijang Innova yang memang menjadi andalan perusahaan untuk berjualan ke luar negeri.
Dua mobil jenis International Multi Purpose Vehicle (IMV) itu sendiri diluncurkan Toyota pada Januari 2016, dilanjutkan dengan membuka pemesanan dari para pembeli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut menurutnya terlihat dari jumlah ekspor mobil tersebut pada Maret 2016 yang menembus angka 7.600 unit atau mengambil porsi 45,5 persen dari total eskpor Toyota sebesar 16.700 di periode tersebut. Angka itu terdiri dari 1.900 unit All New Kijang Innova dan 5.700 unit All New Fortuner.
Walau masih optimistis, ia mengatakan ekspor tahun ini masih ada beberapa hambatan. Tantangan tersebut diantaranya masih lemahnya permintaan dari negara Gulf Cooperation Council (GCC) di Timur Tengah yang pendapatan masyarakatnya merosot akibat harga minyak yang semakin rendah. Padahal, hampir 60 persen ekspor TMMIN tahun lalu ditujukan bagi negara-negara di kawasan tersebut.
Di samping itu, bahan baku yang masih impor membuat biaya produksi kurang efisien dibanding pesaing terdekat Indonesia, yaitu Thailand.
"Makanya kadang depresiasi Rupiah juga berpengaruh, khususnya untuk membeli bahan baku impor. Seperti contohnya welding aluminium, itu kan kami impor dari Dubai. Untuk itu, kami juga membutuhkan nilai tukar yang cukup stabil," jelasnya.
"Sayangnya itu masih belum bisa kami lihat sampai sejauh ini," jelasnya.
Sebagai informasi, produksi TMMIN pada tahun 2015 tercatat sebesar 190 ribu atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya dengan angka 209.085 unit. Sementara itu, ekspor TMMIN meningkat 10,75 persen dari 159.570 ke angka 176.737 unit.
Tiga jenis mobil yang paling banyak diekspor TMMIN adalah Vios dengan angka 51 ribu unit, Fortuner dengan jumlah 42.053 unit, dan Avanza dengan nilai 41.302 unit. (gen)