“Saat ini di Indonesia ada 1.800 BPR, kami menutup lima diantaranya sepanjang tahun ini. Alasan penutupan rata-rata karena kecurangan oleh pemilik bank dan pengelola bank," jelas Kepala LPS Fauzi Ichsan di Jakarta, Jumat (20/5).
Namun, mantan ekonom Standard Chartered Bank tersebut enggan menyebut identitas BPR yang sudah ditutup tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bicara rasio kecukupan modal ada di 21 persen itu salah satu yang tertinggi di dunia dan tertinggi di sejarah Indonesia. Lalu non performing loan kita berada pada angka 2,8 persen. Nah itu masih relatif rendah apalagi dibandingkan bantalan permodalan perbankan Indonesia,” ujar Fauzi.
Namun, LPS tidak memungkiri bahwa kondisi perbankan sulit ditebak. Untuk memperluas jangkauan radar dalam mengawasi industri perbankan nasional, LPS menggandeng enam Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk mendukung fungsi, tugas, dan wewenang LPS dalam penjaminan dan resolusi bank.
"Kami kan tidak pernah tahu kapan bank gagal, apalagi bank besar. Sehingga pada saat terjadinya bank gagal, kami membutuhkan tenaga expert seperti KAP untuk membantu kami," jelasnya.
"Jadi kita melakukan kerjasama untuk menghadapi keadaan yang kritis di sektor perbankan," tuturnya.
Keenam KAP yang dilibatkan LPS untuk membaca potensi terjadinya krisis perbankan adalah KAP Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan (RSM), KAP Osman Bing Satrio dan Eny dan rekan (Deloitte), KAP Tanudireja, Wibisana, Rintis dan Rekan (PWC), KAP Tanubrata Sutanto Fahmi dan Rekan (BDO), KAP Siddharta Widjaja dan Rekan (KPMG), dan KAP Purwanto, Sungkoro, Surja (EY).
Kerjasama yang dibuat mencakup dua lingkup pekerjaan, yaitu pekerjaan asuransi (opini), asisten dan perbantuan tenaga. (gen)