Harita Group Tuntas Bangun Smelter Tahap I di Ketapang

Elisa Valenta, CNN Indonesia | Sabtu, 21/05/2016 19:05 WIB
Harita Group Tuntas Bangun Smelter Tahap I di Ketapang Pabrik pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina milik perusahaan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery di Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (21/5). (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan tambang dalam negeri Harita Group telah menyelesaikan pembangunan tahap I pabrik pengolahan (smelter) bauksit menjadi alumina senilai US$1,15 miliar atau sekitar Rp14 triliun. Smelter tersebut dibangun di Dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Untuk membangun smelter berkapasitas produksi 2 juta ton per tahun itu, Harita Group menggandeng China Hongqiao Group Ltd dan membentuk perusahaan patungan (joint venture) PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WAW AR).

Porsi kepemilikan saham perusahan tersebut antara lain dimiliki oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk (Harita Group) sebesar 30 persen, China Hongqiao Group Ltd. 56 persen, Winning Investment (Hongkong) Company Ltd. 9 persen, Shandong Weiqiao Aluminium and Electricity Co. Ltd 5 persen.


CEO Harita Group Lim Gunawan Hariyanto mengatakan, pada tahap ini perusahaan telah mampu memproduksi alumina dan siap melakukan ekspor perdana pada Juli mendatang. Perusahaan akan berupaya memenuhi kebutuhan alumina di dalam negeri sebesar 500 ribu ton, termasuk kebutuhan alumina yang berasal dari PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (INALUM).

"Tapi kami lihat dulu untuk kebutuhan domestik bisa dipenuhi terlebih dahulu, baru sisanya kami ekspor ke perusahaan partner dan ke mana saja," ujar Gunawan usai acara soft opening pabrik di Ketapang, Kalbar, Sabtu (21/5).

Pabrik tersebut merupakan pabrik smelter bauksit pertama yang ada di Indonesia. Dari sisi teknologi, perusahaan menggunakan teknologi bayer yang dimodifikasi sehingga merupakan pertama kali (pionir) di Indonesia. Dalam proses pengolahan tersebut memberikan nilai tambah Metalurgi Bauxite (MGB) menjadi smelter grade alumina (SGA).

Konstruksi fasilitas smelter telah dilaksanakan sejak Juli 2013 dan kebutuhan listrik pada tahap pertama, perusahaan menggunakan tenaga listrik yang disediakan secara mandiri dengan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 80 MW.

Untuk konstruksi tahap pertama, pekerjaan yang telah diselesaikan adalah pembangunan pabrik pengolahan biji bauksit menjadi alumina, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 80 MW berikut fasilitas penunjangnya.

Selanjutnya PT WHW AR berencana melanjutkan konstruksi pabrik tahap kedua yaitu dengan menambah pabrik untuk 1 juta ton berikutnya, serta menambah 80 MW daya pembangkit listrik sehingga totalnya akan sebesar 160 MW untuk 2 juta ton alumina dan fasilitas penunjang tahap kedua lainnya.

Seluruh bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi SGA dipenuhi langsung dari cadangan bauksit milik Harita Group dan perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) bauksit.

Gerakan Perekonomian Ketapang

Kehadiran pabrik smelter di Ketapang disambut positif masyarakat dan pemerintah daerah. Potensi produktivitas yang dihasilkan dari operasional pabrik dinilai mampu menggerakan kembali perekonomian Ketapang yang sempat lesu akibat diberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara atau biasa yang dikenal dengan Larangan Ekspor Mineral Mentah.

Bupati Ketapang Martin Rantan mengatakan, sejak PP tersebut berlaku, mayoritas penduduk Ketapang yang bekerja di sektor pertambangan terpaksa menganggur. Pertumbuhan ekonomi daerah yang terkenal kaya akan bauksit itu tumbuh minus 4 persen sepanjang tahun lalu.

"Pada 12 Januari 2014, dengan dihentikan ekspor materal mentah, ekonomi di Ketapang lumpuh, karyawan banyak yang dirumahkan dan kendaraan angkut banyak yang menjadi besi tua," kata Martin.

Martin berharap, beroperasinya pabrik seluas 1.500 hektare ini bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat dan berkontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalbar khususnya Kabupaten Ketapang.

Martin memberi catatan untuk para investor yang mayoritas asing untuk menghormati nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Salah satunya, menggunakan tenaga kerja lokal yang harus menjadi prioritas perusahaan dalam berproduksi.

"Kami selalu welcome dengan pengusaha yang mau masuk ke Indonesia. Pesan kami, karena ini perusahaan JV dengan perushaaan China, kami harap mampu melibatkan masyrakat Ketapang sebagi tenaga kerja dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian," katanya. (rdk)


BACA JUGA