Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NIM bank BUKU 4 ini semakin gemuk sejak 2014 sebesar 5,10 persen menjadi 6,36 persen pada akhir tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NIM adalah ukuran perbedaan antara pendapatan bunga yang dihasilkan oleh bank dan nilai bunga yang dibayarkan kepada nasabah pemilik dana. OJK sendiri menyoroti NIM perbankan nasional yang kelewat tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN.
"NIM bank di Indonesia berapa? Diatas 5 persen atau rata-rata 5,5 persen. Supaya bisa bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), NIM kita tidak boleh lebih dari Thailand," ujarnya.
Ironisnya, kendati NIM bank BUKU 4 paling subur, sumbangsih laba kelompok bank bermodal inti paling sedikit Rp30 triliun ini justru negatif. Pada kuartal I 2016, bank BUKU 4 menghimpun laba sebesar Rp17,67 triliun atau turun 2,46 persen ketimbang kuartal I 2015. (bir)