Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan paket insentif ini diperlukan agar aktivitas eksplorasi migas menjadi lebih menarik. Dengan fasilitas ini diharapkan lelang Wilayah Kerja (WK) migas tak lagi sepi peminat seperti yang terjadi pada proses tender delapan WK tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin lainnya, kata Wiratmaja, memberikan insentif untuk proyek laut dalam dan remote area, serta memberikan simplifikasi pada akses data. Di samping itu, Pemerintah juga membuka kesempatan substitusi kegiatan pengeboran menjadi kegiatan lain, jika memang kondisi yang berlaku kurang kondusif untuk mengebor.
"Dan seluruh insentif ini akan melengkapi insentif bagi hasil yang dinamis (dynamic split) yang sudah kami laksanakan sebelumnya," jelasnya.
Selain insentif tersebut, kata Wiratmaja, masih ada beberapa insentif lain yang akan diberikan meski tak tahu kapan akan diterbitkan. Pasalnya, pemberian insentif itu membutuhkan koordinasi dengan instansi lain.
"Salah satu contoh insentif yang masih dikaji adalah tax holiday. Itu kini masih dalam pipeline dengan kementerian lain, dan itu masih dibahas," katanya.
Sebelumnya, usulan insentif ini telah disampaikan oleh Asosiasi Perusahaan Migas Indonesia (IPA). Fasilitas ini diperlukan guna menggiatkan kembali eksplorasi migas di tengah anjloknya penerimaan negara mengikuti penurunan harga minyak.
Kementerian ESDM mencatat harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada akhir tahun lalu sebesar US$35,47 per barrel, turun 40,44 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya US$59,56 per barrel.
Sebagai informasi, tahun ini Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) menargetkan eksplorasi sebanyak 151 pengeboran sumur migas dalam rencana kerja dan anggarannya. Target tersebut lebih optimistis dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana realisasi eksplorasinya hanya terjadi pada 55 sumur dari rencana pengemboran 157 sumur. (ags/gen)