Tahun lalu, produsen bir dan minuman ringan ini mencatat laba bersih turun 37,49 persen menjadi Rp496 miliar dari capaian 2014 sebesar Rp794 miliar. Pelemahan laba bersih tersebut disebabkan penurunan penjualan bersih perusahaan yang turun 9,77 persen menjadi Rp2,69 triliun dari Rp2,98 triliun.
Maarten Hoedmaker, Direktur Keuangan Multi Bintang mengatakan, laba perusahaan turun dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang menurun dan peraturan pemerintah yang melarang penjualan bir di minimarket.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, penurunan laba bersih juga dipengaruhi oleh dampak dari biaya tertentu yang tidak terjadi setiap tahun karena Multi Bintang dinilai melakukan kesalahan administrasi dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan jumlah Rp221 miliar.
"Kami sudah keluarkan produk minuman baru non alkohol baru-baru ini yaitu Bintang Radler Lemon 0,0 persen, dan Januari kemarin kami keluarkan Fayrouz", jelasnya.
"Jadi kami optimistis dengan minuman non alkohol kami, apalagi dengan regulasi pemerintah yang melarang penjualan bir di minimarket," katanya.
Sebagai informasi, Multi Bintang mencatat pertumbuhan penjualan pada kuartal 1 2016 sebesar 41,89 persen menjadi Rp807,39 miliar dari sebelumnya Rp568 miliar. Penjualan terbesar adalah minuman bir yaitu Rp711 miliar dan minuman non alkohol Rp95,48 miliar.
Sementara, laba bersih perusahaan pada kuartal I 2016 tercatat sebesar Rp244 miliar. Angka tersebut tumbuh 127 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp107 miliar.