Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK memastikan, wasit industri keuangan akan mengawasi risiko kenaikan NPL bank.
"Namun, tidak usah terlalu bertindak panik, seolah-olah ini terjadi dalam jangka panjang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Menurut S&P, kekhawatiran tersebut didasari oleh dampak perlambatan ekonomi global yang kemudian berimbas pada daya beli masyarakat dan kemampuan nasabah dalam membayar angsuran kreditnya.
Namun demikian, Nelson optimistis, perbankan mampu mengatasi rasio NPL yang berpotensi membengkak ke depan. Optimisme ini berangkat dari upaya bank dalam membentuk unit khusus untuk mengatasi kredit bermasalah. Unit khusus ini bekerja tidak hanya untuk menangani kredit bermasalah, tetapi juga mengendalikan risiko kenaikan NPL.
"Bank sudah punya strategi khusus dalam mengatasi itu. Kalau saya melihatnya pada saat ekonomi ini sedang turun, itu wajar terjadi. Tetapi, tidak menjadi sesuatu yang perlu ditakutkan juga," terang Nelson.
Peningkatan rasio NPL yang menggerogoti kinerja perbankan juga dialami PT Bank Mandiri Tbk. Per 31 Maret 2016, NPL gross bank pelat merah ini tercatat sebesar 2,89 persen atau naik 100 basis poin (bps) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 1,81 persen.
Bank Permata juga membukukan NPL yang tinggi. Rasio NPL gross bank yang terafiliasi dengan PT Astra International Tbk tersebut naik menjadi 3,48 persen per Maret 2016 dibandingkan posisi per Maret 2015 di level 1,62 persen. (bir)