"Kami berkeinginan masuk BUKU II. Tetapi, setelah melihat perekonomian Indonesia kurang bagus, tanda-tanda penguatan ekonomi masih lemah, sehingga alasan penguatan menjadi BUKU II itu belum tahu kapan," tutur Paulus Nurwadono, Komisaris Utama Bank Agris, Senin (13/6).
Lihat juga:OJK akan Larang Bank Merugi Bagikan Bonus |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Per Maret 2016, Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Agris mencapai 19,59 persen atau naik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu 16,59 persen. Dari sisi aset, bank mencatat peningkatan 18,56 persen dari tahun lalu menjadi Rp4,4 triliun.
"Menjadi bank fokus itu tidak mudah. Membutuhkan ketelitian manajemen. Sektor agribisnis menjadi sektor yang berisiko, sehingga kami harus mempersiapkan banyak hal untuk menyerap risiko tersebut," ujar Paulus.
Menelisik laporan keuangan perseroan, pertumbuhan penyaluran kredit Bank Agris justru mengalami penurunan hingga minus 0,86 persen kalau dibandingkan Maret tahun lalu. Penyaluran kreditnya cuma sebesar Rp2,62 triliun.
Vera Afianti, Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional Bank Agris mengaku, perseroan tidak mampu menyaingi kinerja bank-bank besar dalam menyalurkan kredit ke sektor komersial dengan alasan efisiensi. Rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) emiten berkode AGRIS itu tembus 97,01 persen.
"Kami tidak bisa bersaing dengan bank komersial besar lainnya. Bank besar itu secara regulator sudah disarankan menjadi bank buku III dan buku IV itu. Untuk single digit, kami tidak bisa bersaing dengan mereka karena biaya dana kami lebih besar dari mereka," pungkasnya.
Namun demikian, ia optimistis, perusahaan mampu mengucurkan kredit mikro sebanyak Rp400 miliar dengan alokasi khusus untuk sektor peternakan ayam dan tambak udang. (bir)