Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso mengatakan, perseroan melakukan penyesuaian harga dengan mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya produksi.
“Tahun ini harga jual sudah kami naikkan pada Februari lalu, sekitar 1,8-1,9 persen. Jika tiba-tiba ada cost yang naik dan ada pelemahan di rupiah, maka harga jual kami sesuaikan. Namun, pada prinsipnya, dalam situasi normal, kenaikan harga tidak lebih dari inflasi,” jelasnya, Selasa (14/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tahun lalu, secara average harga naik 3 persen dalam tiga kali kenaikan. Kenaikan dilakukan pada Maret, Agustus dan Oktober,” katanya.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Herman Bakshi menyatakan, perusahaan melihat perbaikan kondisi daya beli pada tahun ini. Hal tersebut, lanjutnya, berbeda dengan tahun lalu yang cenderung melambat.
“Kami rasakan kondisi ekonomi yang dulu melambat sekarang mulai stabil dan diharapkan bisa baik, terutama terkait dengan daya beli masyarakat,” ujarnya, Selasa (14/6).
Ia menjelaskan, di bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya, penjualan pasar barang konsumsi bisa tumbuh sekitar 5,9-7 persen. Melihat perkembangan yang ada, Herman yakin penjualan Unilver pada Ramadan tahun ini bisa melampaui pasar.
“Kami yakin dengan strategi yang ada, kami bisa tumbuh di atas pasar,” katanya.
Sayangnya, pada awal tahun ini kinerja Unilever mengalami pelemahan. Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 1,2 persen menjadi Rp1,57 triliun pada kuartal I 2016, dari Rp1,59 triliun di periode yang sama 2015.
Beban pemasaran dan penjualan Unilever naik 8,7 persen dari Rp1,83 triliun menjadi Rp1,99 triliun. Sementara pendapatan lain-lain perusahaan justru turun tajam dari Rp5,8 miliar menjadi Rp926 juta. Di sisi lain, biaya keuangan perseroan juga naik 23 persen menjadi Rp42 miliar.