Daging Sapi Masih Mahal, Jokowi Ajak Lebaran Makan Ikan

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Kamis, 16/06/2016 08:42 WIB
Daging Sapi Masih Mahal, Jokowi Ajak Lebaran Makan Ikan Presiden Jokowi meminta masyarakat untuk tidak terlalu memaksakan diri memasak makanan berbahan dasar daging saat lebaran nanti. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih tingginya harga daging sapi sampai saat ini membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat untuk tidak terlalu memaksakan diri memasak makanan berbahan dasar daging saat lebaran nanti. Jokowi justru mengkampanyekan aksi makan ikan sebagai pengganti daging karena harga daging tak kunjung turun dibawah batasan harga maksimal yang ditetapkannya yaitu Rp80 ribu per kilogram.

“Dengan demikian, kampanye untuk memakan ikan ini akan dilakukan untuk pengganti daging,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung di Kantor Presiden, kemarin sore.

Dalam Rapat Terbatas dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, Jokowi juga memerintahkan untuk dibuat kebijakan penguatan kelautan dan yang berkaitan dengan industri perikanan yang bisa segera dijalankan.


“Menko Maritim diberikan waktu sampai dengan bulan Juli agar kebijakan yang implementatif itu bisa segera dibuat,” terang Pramono.

Sebelumnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini kebijakan pemerintah mengimpor daging sapi segar sebanyak 27.400 ton tidak akan efektif menekan harga daging sapi secara signifikan menjelang lebaran. Kebijakan itu justru dianggap bisa memicu kenaikan harga daging sapi lokal.

“Kalau yang diimpor daging paha depan maka harga daging paha depan akan turun. Karena paha depan turun, maka produsen daging sapi lokal terpaksa menaikkan harga untuk paha belakang guna menutupi kerugian karena harga paha depan yang turun," ujar Juan Permata Adoe, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan.

Apabila pemerintah mau menekan harga daging sapi menjadi Rp80 ribu per kg, kata Juan, seharusnya yang diimpor bukan dagingnya, melainkan memperbanyak impor sapi hidup untuk digemukkan di Indonesia. Selain itu, kebijakan itu juga harus dilakukan pada jauh hari sebelum ada lonjakan permintaan di pasar.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini ada 12 juta sapi hidup di Indonesia yang dimiliki oleh 5 juta peternak sapi. Artinya, rata-rata peternak hanya memiliki sekitar dua ekor sapi dan itu dinilai sangat kurang. Pasalnya, kebutuhan daging sapi di Indonesia per tahun mencapai 625 ribu ton per tahun atau 2,5 kg per kapita, dengan asumsi jumlah penduduk 250 juta jiwa. (gen)