Pemerintah Guyur Jabodetabek 27.400 Ton Daging Sapi Impor

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 02/06/2016 19:31 WIB
Pemerintah Guyur Jabodetabek 27.400 Ton Daging Sapi Impor Dari rencana 27.400 ton impor daging yang akan dilakukan, Pemerintah memberi jatah impor 11.900 ton bagi perusahaan swasta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menetapkan angka 27.400 ton daging sapi untuk memenuhi kebutuhan bulan ramadan dan hari raya Idul Fitri. Keputusan itu diambil karena persediaan daging dalam negeri tidak mencukupi pada masa-masa tersebut.

Demi melaksanakan impor tersebut, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong tidak hanya menugaskan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti tahun lalu, namun juga memberi kesempatan bagi pengusahaan swasta untuk masuk. Dari rencana 27.400 ton impor daging yang akan dilakukan, Pemerintah memberi jatah impor 11.900 ton bagi perusahaan swasta.

Sementara itu, sisa impor rencananya akan ditugaskan kepada Perun Bulog sebanyak 10 ribu ton, sebanyak 5 ribu ton diimpor PT Berdikari (Persero), dan sebanyak 500 ton daging akan diimpor oleh PD Dharma Jaya, yaitu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta yang bergerak di sektor peternakan.


"Sekarang kami putuskan pembukaan lebih lebar, bukan artinya lebih luas. Kami buka lebih lebar sehingga ada kompetisi yang melibatkan lebih banyak pihak, supaya kita memberikan solusi ramah pasar," tutur Thomas, Rabu (2/6).

Thomas mengatakan impor daging sapi nantinya hanya akan memenuhi kebutuhan konsumsi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dan sebagian Jawa Barat mengingat konsumsi terbesar daging sapi ada di wilayah tersebut.

Sebagai informasi, Statistik Peternakan 2014 mencatat 90 persen impor sapi dinikmati di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

"Jadi yang kami lakukan dengan impor sapi hanya untuk wilayah Jabodetabek dan Jabar, karena di luar kedua wilayah itu, biasanya sudah swasembada sapi," jelas Thomas.

Selain kebutuhan Jabodetabek lebih besar, Pemerintah juga tak mau mematikan peternak lokal dengan memasukkan sapi impor ke daerah-daerah di luar Jabodetabek. Menurut Thomas, kebijakan impor ini ditujukan untuk menjaga pasokan, sehingga harga yang diterima masyarakat lebih stabil.

"Kami harus menempatkan isu pada masing-masing tempatnya, satu sisi impor untuk menjaga stok dan supaya punya amunisi untuk mengguyur pasar bila bergejolak," terangnya.

Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), konsumsi daging sapi impor pada 2015 tercatat sebesar 237.890 ton atau mengambil porsi 36 persen dari total konsumsi daging sapi sebesar 653.890 ton. Sementara itu, pada tahun ini konsumsi daging sapi diperkirakan meningkat 10 persen menjadi 738.025 ton. (gen)