Sementara, total penjualan lahan industri hingga akhir tahun 2015 sebesar 347,51 hektare, sehingga bila dihitung total penjualan lahan industri pada kuartal II 2016 baru mencapai 13,9 persen dari total penjualan lahan industri sepanjang tahun 2015.
"Dengan begitu, untuk menyamakan jumlah yang sama dari transaksi tahun lalu pada semester kedua akan sangat menantang," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, kemarin malam (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila dirinci, sektor logistik memimpin dengan 48 persen, lalu otomotif 19 persen, farmasi 6 persen, pengecoran 4 persen, bahan kimia 4 persen, plastik 4 persen, pengembang 2 persen, baja 2 persen, minyak dan gas 1 persen, pabrik 1 persen, pengemasan 1 persen, dan lain-lain 7 persen.
Menurutnya, banyak usaha yang membutuhkan logistik sebagai penyimpanan barang operasional perusahaan. Misalnya saja perusahaan ritel online, di mana tidak memiliki lokasi penjualan tapi tetap membutuhkan gudang untuk menaruh stok barang. Selain itu, perusahaan ritel seperti supermarket yang rantai pasok (supply chain) nya besar tentunya membutuhkan gudang.
"Nah begitu juga otomotif. Penjualan otomotif kan saat ini sedang turun, jadi produksinya dan penyerapannya tidak seimbang sehingga barang-barang harus disimpan, nah itu mereka butuh gudang atau tempat penyimpanan," ungkap Ferry.
Adapun, harga rata-rata penjualan kawasan industri di Bekasi sebesar Rp2,4 juta-Rp3,5 juta per meter persegi, tergantung dari beberapa spesifikasi seperti kualitas dan fasilitas kawasan tersebut dan penyewa. Harga tersebut merupakan harga tertinggi dibanding daerah lainnya.
Sementara, kawasan industri Karawang ditawarkan dengan mata uang dolar AS. Lahan di Karawang dijual dengan harga US$170-US$200. Hingga saat ini, hanya Karawang yang menawarkan penjualan lahan berdenominasi dolar AS. (gir)