Di sisi lain, rasio kredit bermasalah bank BUMN itu juga naik menjadi 3 persen jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu yang sebesar 2,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari segi kredit, BNI hingga akhir Juni 2016 menyalurkan pembiayaan sebesar menjadi Rp357,22 triliun, tumbuh 23,8 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu Rp288,72 triliun.
Selaras dengan itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BNI juga mengalami kenaikan, dari 2,7 persen pada Desember 2015 menjadi 3 persen. Baiquni melihat ke depannya masih ada potensi tren kenaikan NPL mengingat kondisi perekonomian yang belum pulih.
Oleh sebab itu, lanjutnya, bank pelat merah itu meningkatkan rasio cakupannya untuk mengatasi kredit bermasalah (coverage ratio), dari 138,6 persen pada kuartal II-2015 menjadi 142,8 persen pada kuartal II-2016.
"NPL trennya mengalami kenaikan. Angka 3 persen ini merupakan NPL yang tertinggi. Tapi kita berharap ke depan NPL semakin menurun. Kita targetkan di bawah 3 persen," kata Baiquini.
Untuk memitigasi risiko NPL yang naik, Baiquni mengatakan, BNI akan mengambil langkah strategis guna membereskan kredit yang terindikasi bermasalah.
"Kredit-kredit yang sekiranya memburuk secepat mungkin kita lakukan restrukturiasi. Makanya kita naikan coverage ratio. Ke depannya kita perlu meningkatkan coverage rasio karena kalau kita lihat saingan kita yang juga rata-rata menaikan coverage rasionya," ujar Baiquini. (ags)