"Proses bicara ada, karena kami tidak berhenti di Korea. Kami buka beberapa pembicaraan dengan yang kirai-kira potensial, bisa Jepang dan India. Supaya ya nanti kami lihat dapatnya yang mana," kata Direktur sekaligus Corporate Secretary Kalbe Farma Vidjongtius, Senin (1/8).
Namun, Vidjongtius masih belum mengetahui kapan tepatnya kerja sama akan dilakukan mengingat proses diskusi masih berlangsung dan belum mencapai titik temu. Menurutnya, perseroan membuka opsi kerja sama di berbagai aspek usaha farmasi, seperti alat kesehatan, produk nutrisi, atau produk kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berharap, kerja sama dengan perusahaan luar negeri dapat berlangsung di dalam negeri. Vidjongtius menyatakan, yang saat ini sedang dicari oleh perusahaan adalah teknologi produksi yang perusahaan belum menguasainya.
Meskipun belum jelas calon partnernya, Kalbe Farma telah menyiapkan dana sebesar Rp1,8 triliun di luar anggaran belanaj modal yang telah dialokasikan. Sayangnya, dari dana tersebut perusahaan belum dapat memprediksi akan terpakai berapa untuk proyek selanjutnya.
"Proyek belum ada jadi belum bisa kami perkirakan," jelasnya.
Dalam semester I 2016 ini, perusahaan telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp9,55 triliun, naik 9,6 persen dari perolehan periode yang sama tahun llau Rp8,71 triliun.
Pertumbuhan penjualan tersebut berdampak positif terhadap naiknya laba bersih perusahaan sebesar 7,5 persen menjadi Rp1,14 triliun, dari sebelumnya Rp1,06 triliun. Alhasil laba per saham pun naik dari Rp22,68 menjadi Rp24,45 per saham.
Sementara itu, beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp4,89 triliun dari sebelumnya Rp4,42 triliun. Hingga saat ini, total aset perusahaan tumbuh menjadi Rp14,22 triliun dari tahun 2015 Rp13,69 triliun. (ags)