Kelima sektor usaha jasa yang dimintakan pengecualian PPh Pasal 23 adalah pengurusan transportasi, logistik, pengurusan dokumen, pengangkutan atau ekspedisi.
Untuk itu, Satuan Tugas (Satgas) Percepatan dan Efektivitas Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi yang dimpimpin oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution telah memberikan tenggat waktu bagi DJP untuk mengevaluasi kebijakan PPh Pasal 23 hingga 5 Agustus 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu terungkap dalam laporan tertulis Satgas Percepatan dan Efektivitas Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi, yang dipaparkan Darmin Nasution di hadapan Presiden Joko Widodo pada awal Agustus.
"Dengan adanya PMK dimaksud, seluruh operator terminal mengharuskan perusahaan terlebih dahulu membayarkan seluruh jumlah tagihan, kemudian perusahaan harus membayarkan PPh Pasal 23 ke kantor pajak dengan dananya sendiri kemudian baru dimintakan kembali (refund) kepada operator terminal," jelas Darmin seperti dikutip dari salinan surat Laporan Perkembangan Pelaksanaan Kebijakan Deregulasi Ekonomi, yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (11/8).
Berdasarkan hasil pembahasan, Darmin mengatakan, keluar rekomendasi dari pemerintah untuk Kementerian Keuangan, khususnya DJP, agar membuat penegasan terkait kriteria objek pajak Pasal 23 dan Pasal 15 UU PPh.
Selain itu, lanjutnya, DJP diminta melakukan pengkajian bersama Kamar Dagang dan Industri Eropa atau European Business Chamber of Commerce (EuroCham) di Indonesia terkait lima sektor jasa, untuk dikeluarkan atau tidak dari ketentuan PMK tersebut. Kelima sektor jasa tersebut meliputi pengurusan transportasi, logistik, pengurusan dokumen, pengepakan, pengangkutan/ekspedisi.
Cabut Ketentuan E-Faktur
Selain itu, Kemenkeu atau DJP juga diminta mengkaji kembali Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. Pasalnya, kewajiban perusahaan mengeluarkan commercial invoice dan e-faktur untuk melakukan penagihan dinilai menimbulkan beban administrasi, mengingat di negara lain hanya menggunakan invoice.
Rekomendasi terkait kebijakan ini, kata Darmin, DJP diminta melakukan pengkajian teknis bersama EuroCham untuk membahas soal e-faktur.
Untuk itu, lanjutnya, Eurocham akan menyiapkan daftar perusahaan yang mempunyai permasalahan dengan e-faktur untuk dibahas bersama DJP.
Menyangkut rekomendasi tersebut, Darmin Nasution menegaskan, DJP juga harus menuntaskan permasalahan ini paling lama tanggal 5 Agustus 2016. (ags)