Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, skema Penyertaan Modal Negara (PMN) dilakukan cukup dua kali saja yakni dalam APBN tahun 2015 dan 2016.
Rini beralasan dihentikannya program PMN di tahun 2017 karena struktur permodalan BUMN dianggap sudah cukup kuat untuk melakukan kegiatan operasional hingga pembangunan infrastruktur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih lagi di tahun depan, kata Rini, ada beberapa perusahaan BUMN dan anak usahanya akan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Dengan begitu perusahaan tersebut akan mendapat dana segar dari investor pasar saham.
Selain mencari modal lewat IPO, terdapat sejumlah perusahaan BUMN yang berencana menjaring modal melalui penerbitan surat utang (obligasi). Rini mengatakan, tahun depan penerbitan obligasi perusahaan BUMN ditargetkan mencapai Rp165 triliun untuk yang berdenominasi rupiah dan US$1,5 miliar untuk obligasi valas.
Selain itu, Kementerian BUMN juga akan menambah kapasitas belanja modalnya menjadi Rp555 triliun. Angka ini mencakup seluruh BUMN yang sebagian besar sahamnya dimiliki negara.
"Untuk 2015 capex kita Rp219 triliun, tahun ini targetnya Rp416 triliun. Tahun depan sekitar Rp555 triliun. Dengan jumlah ini kita lakukan leveraging," ujarnya. (gir/gir)