Geliat Bursa Berjangka Dalam Negeri Sambut Tax Amnesty

Giras Pasopati & Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 17/08/2016 12:57 WIB
Geliat Bursa Berjangka Dalam Negeri Sambut <i>Tax Amnesty</i> Direktur Utama Jakarta Futures Exchange, Stephanus Paulus Lumintang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menerbitkan aturan baru tentang perubahan instrumen investasi yang bisa digunakan untuk menampung dana repatriasi amnesti pajak. Di aturan sebelumnya yang diteken Bambang P.S. Brodjonegoro, telah ditetapkan 10 instrumen investasi.

Dalam pasal 6 ayat 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 123/PMK. 08/2016, Sri Mulyani menambah satu instrumen lagi, yaitu kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka di Indonesia. Nantinya, penempatan pada instrumen investasi sebagaimana dimaksud dilakukan melalui gateway (lembaga keuangan yang ditunjuk).

Lantas, bagaimana sebenarnya kondisi perdagangan kontrak berjangka di dalam negeri? Apakah instrumen investasi kontrak berjangka mampu menarik para wajib pajak untuk mengalirkan dana repatriasinya?


CNNIndonesia.com mewawancarai Stephanus Paulus Lumintang, Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Jakarta Futures Exchange (JFX) di kantornya, Senin (15/8). Berikut petikan wawancaranya:


Anda telah memimpin JFX sejak tahun lalu. Apa saja hal baru yang telah Anda lakukan hingga kini?

Saya dipilih shareholder sudah setahun lebih, saat ini berjalan tahun kedua. Adapun perubahan-perubahan yang saya lakukan adalah bersifat internal dan ekternal. Di internal sendiri, kami menata kembali struktur sumber daya manusia (SDM). Perkembangan teknologi juga mengalami penyesuain karena kami melakukan bisnis berbasis teknologi.

Dari sisi eksternal, kami juga merangkul pihak lain ke anggota bursa, juga ke pemerintah, untuk memperbaiki struktur komunikasi. Pendekatan tidak hanya kepada member saja, tapi juga ke end user yang direct.

Apa saja hasil dari peningkatan modal dasar sebesar Rp400 miliar yang belum lama ini dilakukan JFX?

Modal dasar kami awalnya pada 19 Agustus 1999 senilai Rp40 miliar dan modal disetor Rp11,6 miliar. Sebagai aplikasi dari peraturan baru, kami ubah dari Rp40 miliar jadi Rp400 miliar. Sementara modal disetor naik dari Rp11,6 miliar jadi Rp100 miliar.

Dana dari peningkatan modal disetor tidak semuanya berasal dari fresh fund. Kami juga menggunakan moment revaluasi aset pada 2015 lalu. Dan kami sudah disetujui Dirjen Pajak. Revaluasi aset berasal dari kantor yang kami beli, naik hampir 240 persen.

Dana dari modal disetor kami gunakan sebagai kekuatan finansial yang belum kami gunakan maksimal karena infrastruktur sudah cukup. Kami juga masuk ke investasi untuk non operasional. 

Sebelumnya, JFX berencana membangun 18 pusat studi atau Futures Trading Learning Center (FTLC). Bagaimana progresnya? Di mana saja daerah yang sudah dibangun?

Nama pusat studi di tahun 2016 ini diubah jadi FTLC karena dulu memakai nama JFX yang dipakai pialang. Sekarang sudah ada 16 FTLC, tahun ini kami targetkan jadi 18. Nanti kami akan merambah yang pertama di Sumatera Utara. Dan kemudian juga yang pertama di Sulawesi. 

Target saya di tahun depan saya akan menambah FTLC di Kalimantan. Dan kami juga akan mereposisi dua yang sudah ada.

Dalam hal ini, fungsi FTLC adalah mengedukasi teman mahasiswa. Kami ingin menanamkan suatu pondasi bahwa perdagangan berjangka ada di Indonesia. Rencananya, kami jadwalkan setiap enam bulan di satu FTLC, kami akan berikan diskusi perdagangan berjangka.

Apa saja hambatan dalam melakukan sosialisasi perdagangan kontrak berjangka?

Perdagangan berjangka ini memang unik, bukan sekadar perdagangan umum karena sudah menggunakan kemajuan teknologi dan informasi. Tidak ada floor trading, semua menggunakan internet.

Selain itu, hambatannya adalah pengetahuan dari manfaat perdagangan berjangka yang masih minim. Kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi. Sosialiasi kepada next stakeholder, tapi juga edukasi ke next generation. Kami juga terkadang menemui hambatan regulasi karena kita bisa saja punya persepsi lain terkait satu regulasi.

Berapa jumlah investor di JFX saat ini?

Secara pasti, jumlah investor kita tidak bisa dilihat secara spesifik. Yang bisa dilihat adalah jumlah akun kliring. Per akhir 2015 ada 110 ribu akun, tapi tidak mencerminkan karena ada yang bisa punya dua akun.

Tentunya kami harap bisa bertambah. Kalau masalah target jumlah akun, sulit memprediksi karena kami tidak berhubungan langsung dengan nasabah. Yang berhubungan langsung adalah anggota bursa atau pialang.

Berapa jumlah total pialang di JFX saat ini? Dari sisi pengawasan dan kepatuhan, sudah berapa sanksi dan pencabutan izin pialang yang dilakukan JFX hingga Juli?

Saat ini yang aktif ada sekitar 80 pialang. Dari segi kepatuhan, semester I ini ada beberapa member yang terkena sanksi. Fungsi pembinaan dan pengawasan tetap kami lakukan secara insentif. Tapi semester I ini makin minim pelanggaran. Kami ada satu tindakan pembekuan saja.

Bagaimana kondisi transaksi di JFX selama tujuh bulan pertama ini? Seberapa besar pertumbuhannya?

Transaksi bilateral hingga Juli secara tahunan naik 33 persen. Transaksi multilateral naik 36 persen, tapi masih sedikit dibawah target. Target setahun bisa tumbuh 250 persen, kalau dihitung selama tujuh bulan masih ada selisih 20 persen.

Produk komoditas apa yang memiliki transaksi terbesar? Apa penyebabnya? Bagaimana trennya?

Komoditas paling banyak ditransaksikan secara volume saat ini didominasi oleh olein selain kopi dan emas. Olein saat ini banyak digunakan oleh masyarakat karena juga kebutuhan packing. Kebutuhan untuk industri meningkat. Sehingga banyak investor menggunakannya sebagai alat lindung nilai (hedging). Kalau kopi belakangan harganya sedikit turun, karena ada hubungannya dengan kelebihan suplai.

Bagaimana kinerja perdagangan komoditas kopi? Apakah ada keterkaitan dengan tren penikmat kopi beberapa tahun belakangan ini?

Tentunya bukan kami yang menentukan harga pasar fisik. Memang idealnya harga di kontrak berjangka tidak berbeda jauh dengan pasar spot. Keterkaitan dengan tren penikmat kopi ada, tetapi tidak langsung.

Kalau tren pecinta kopi itu imbasnya ke pasar fisik, sedangkan kami pasar derivatif yang memperdagangkan paper contract harga. Namun dari situ bisa jadi referensi harga untuk penjual dan pembeli.

Coffeeshop yang saat ini menjamur masih dikuasai asing. Sekarang sudah menjamur banyak sekali barista. Harga yang terjadi di JFX untuk referensi dunia mungkin belum, tapi sudah mulai diperhitungkan.

Apakah transaksi komoditas emas saat ini berkilau? Apa saja sentimen yang mempengaruhi pergerakannya?

Emas ini merupakan never ending commodity, karena seluruh dunia tahu emas dan bahkan jadi cadangan devisa negara. Emas akan tetap berkilau. Emas ada yang dibikin perhiasan, ada batangan.

Hal-hal yang bisa mempengaruhi adalah nilai tukar mata uang asing, harga komoditas lainnya yaitu tambang, demand dan supply saat barang dijadikan perhiasan. Selain itu, semakin banyaknya investor atau tidak.

Kalau produk berbasis emas kami ada kontrak berkala emas yang mencakup ritel dari 5 gram sampai 250 gram. Kami juga ada indeks emas, dan kontrak gulir emas yang tidak ada penyerahan fisik. Sangat menarik, dengan marjin kecil.

(gir/gen)