Direktur Utama KS Sukandar menjelaskan, manajemen menginginkan pabrik HSM baru bisa beroperasi mulai 2019 dan bisa memenuhi kebutuhan baja nasional yang melonjak di masa depan.
Jika kebutuhan baja nasional pada 2015 tercatat sebesar 12,9 juta ton, ia meramal kebutuhan pada 2025 akan naik dua kali lipat menjadi 25,1 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, pabrik HSM ini memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun. Tambahan produksi pabrik baru membuat kapasitas produksi HSM perseroan naik jadi 3,9 juta ton per tahun.
Pembiayaan perbankan tersebut tercatat sebesar US$260 juta, atau 56,52 persen dari total investasi, yang disediakan oleh Commerzbank AG dan dibantu oleh German Export Credit Agency (ECA).
"Setelah pabrik ini selesai, kami berharap bisa mengambil pangsa pasar produk Hot Rolled Coil (HRC) nasional, dengan menyasar industri otomotif, pipa dan tabung, hingga konstruksi," tambah Sukandar.
Bersamaan dengan pembangunan pabrik HSM kedua, KS akan membangun tambahan kapasitas reheating furnace, finishing mill, dan down coller untuk menipiskan ukuran lembaran baja yang dihasilkan dari pabrik HSM 1 dan HSM 2, dari 1,4 milimeter (mm) hingga 1,6 mm menjadi 1,2 mm. Dengan demikian, perusahaan nantinya bisa memiliki kapasitas produksi 4 juta ton.
"Penambahan kapasitas ini kami harap juga bisa berkontribusi positif pada kinerja keuangan kami," tambahnya.
Sebagai informasi, KS mencatatkan pendapatan sebesar US$659,15 juta sepanjang semester I 2016, atau turun 2,67 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$677,23 juta. Meski demikian, perusahaan berhasil menekan rugi bersih dari US$137,61 juta di semester I tahun lalu ke angka US$93,28 juta di tahun ini. (gen/gen)