Tantangan bagi industri hulu migas tersebut terungkap dalam seminar “Sinergi Perbankan dengan Industri Migas” yang digelar Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) beberapa hari lalu di Jakarta.
Para peserta seminar yang berasal dari kontraktor kontrak kerjasama (KKKS), menyebut fasilitas pendanaan dari bank nasional saat ini kurang kompetitif dibandingkan bank asing. Hal tersebut terlihat dari fasilitas cash loan yang disediakan bank nasional, selalu diberikan dengan suku bunga yang lebih tinggi antara 2-3 persen dibandingkan bank asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raymond Naldi Rasfuldi, Direktur Business Development Tripatra menyebut jika terus-terusan sulit mencari pinjaman seperti ini, tidak heran jika kegiatan eksplorasi dan produksi migas Indonesia tersendat. Raymond mengusulkan dibuatnya terobosan sistem perbankan nasional dalam bentuk skema sinergi komersial untuk menjawab tantangan ini.
Untuk itu, ia meminta agar pemerintah bisa mendorong bank-bank nasional untuk membantu kesulitan yang dihadapi industri migas saat ini.
“Bank-bank di Indonesia seharusnya bisa memberi short term bridging financing dengan bunga yang kompetitif bagi industri ini,” kata Raymond, dikutip Kamis (8/9).
Ia melanjutkan, pemerintah juga seharusnya bisa membantu dengan mempercepat restitusi pajak perusahaan migas dan menetapkan Pajak Penghasilan (PPh) yang lebih fleksibel untuk membantu memperkuat arus kas kontraktor nasional.
“Pada akhirnya diharapkan kontraktor-kontraktor lokal dapat lebih fokus kepada lini bisnis intinya dan bukan pada biaya-biaya terkait pendanaan proyek,” tegasnya.
Sementara Montty Girianna, Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menawarkan solusi bantuan bagi industri hulu migas dalam bentuk kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) untuk proyek-proyek migas strategis. Skema KPBU menurut Montty sudah digunakan dalam proyek-proyek infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan tol, dan pelabuhan.
Adhi Pratama, Group Head Oil-Gas Energy Corporate Banking PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang juga hadir sebagai pembicara di seminar ketiga IAFMI dalam dua tahun terakhir tersebut menyatakan perusahaannya siap membantu lebih banyak KKKS di Indonesia.
BRI menurutnya telah ditunjuk pemerintah untuk memberi pinjaman dalam bentuk tunai dan non tunai kepada KKKS, kontraktor, dan penyedia barang dan jasa sektor hulu migas.
“Bentuknya bisa pre-financing, post-financing, dan customized financing. BRI sendiri memiliki modal untuk melakukan itu, karena ASR yang terkumpul sampai saat ini di BRI adalah sebesar Rp3,5 trilliun,” kata Adhi.