Manajemen Bank Sinarmas menargetkan fasilitas kredit tersebut bisa diserap 166 petani ubi jalar di Desa Sukasari, Desa Sirnagalih, Desa Cipetir, Desa Nagrak dan Desa Cipendawa, Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat dengan plafon Rp25 juta per petani.
Direktur BSIM Soejanto Soetjijo menilai, kemitraan yang dibuatnya dengan JIT tidak hanya akan membantu petani. Namun sekaligus memperkecil risiko pada semua pihak. Karena kredit tersebut disalurkan lewat skema value chain financing (VCF) atau supply chain financing (SCF).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyaluran pembiayaan pada petani ubi jalar ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian kerja sama pembiayaan antara Bank Sinarmas dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada 5 September lalu.
Ia mencatat, sejak September hingga Agustus 2016, Bank Sinarmas sudah menyalurkan KUR kepada 2.400 tenaga kerja Indonesia (TKI) senilai Rp31 miliar. Angka ini merupakan yang tertinggi dibanding penyaluran kredit sejenis di bank-bank lain yang juga menandatangani perjanjian kerja sama pembiayaan dengan Kemenkop UKM.
Adapun pemberian KUR mikro dan ritel untuk pertanian dimulai di Cianjur pada akhir September ini, dengan target pemberian kredit hingga Rp200 miliar pada akhir tahun nanti.
Saat ini, Bank Sinarmas sudah memiliki 166 Unit Mikro yang tersebar di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.
“Sampai akhir tahun ini, kami menargetkan bisa memberikan pembiayaan di sektor UMKM sebesar Rp1,8 triliun. Hingga pertengahan tahun ini, realisasinya telah mencapai Rp1,68 triliun. Pembiayaan UMKM mengambil porsi 10 persen dari total portofolio kredit kami,” jelasnya.