Head of Advisory JLL Vivin Harsanto menyatakan, aliran dana repatriasi amnesti pajak ke sektor properti diprediksi baru dapat terlihat pada akhir tahun ini. Ia melihat dana repatriasi akan menjadi sentimen yang positif bagi sektor properti yang saat ini tengah melemah.
"Kami belum bisa lihat, kami belum bisa mengukur berapa persennya. Mungkin kami baru bisa perkirakan akhir tahun," ucap Vivin, Rabu (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari hal transaksi memang belum ada, tapi berupa lihat-lihat atau window shopping ada. Beda kalau kuartal-kuartal sebelumnya mereka masih tunggu amnesti pajak dulu gimana," ungkap Vivin.
"Kalau untuk residensial itu kan individual ya, artinya wajib pajak secara individu mereka bisa berinvestasi. Kalau perkantoran biasanya institusi kalau ritel juga institusi. Jadi sifatnya yang perorangan," terangnya.
Dengan demikian, JLL melihat dana repatriasi dapat mendongrak pertumbuhan residensial yang saat ini masih juga turun.
Berdasarkan data JLL, jumlah penawaran residensial, dalam hal ini kondominium pada kuartal III 2016 ini bertambah sebanyak 600 unit, sehingga saat ini jumlah unit penawaran residensial berjumlah sekitar 119 ribu unit. Sementara, jumlah permintaan sendiri sejak awal tahun hingga akhir kuartal III sebanyak 4.100 unit.
"Itu menandai perusahaan pengembang menahan untuk merilis sampai melihat pasar mambaik. Tapi tidak perlu khawatir, 70 persen itu masih cukup sehat," jelasnya.
Selain itu, pertumbuhan permintaan untuk residensial ini juga ditambah dengan kebijakan Loan to Value oleh pemerintah yang melonggarkan Down Payment (DP). Kemudian, membaiknya nilai tukar rupiah juga akan menopang permintaan untuk residensial. (gir/ags)