“Bahwa apa yang terjadi di global, selalu kita sudah masukkan dalam membuat perumusan kebijakan,” tutur Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di kompleks Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (21/10).
Menurut Perry, pemilihan kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) menimbulkan ketidakpastian baik di negara tersebut maupun di pasar keuangan dan modal global, termasuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika itu meskipun survei yang mengemukakan Hillary Clinton terbilang menang dalam debat tersebut, tetapi popularitas Trump justru semakin tinggi.
"Trump banyak memakai isu-isu untuk menarik perhatian masyarakat, sedangkan isu kesehatan Clinton malah membuat popularitasnya menurun," tutur Hans.
Selain faktor debat Presiden AS, lanjut Perry, BI juga mempertimbangkan faktor rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (FFR) tahun ini yang kecenderungannya sudah bisa dibaca oleh pasar, yaitu pada Desember mendatang.
“Tahun ini memang ada kemungkinan (kenaikan FFR) di November tetapi probabilitasnya di Desember, tetapi itu sudah kami perhitungkan. Bahkan, tahun depan kenaikan FFR dua kali pun sudah kita perhitungkan dalam merumuskan kebijakan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Perry menilai, risiko global masih bisa dikendalikan oleh BI dan membuat bank sentral bisa memanfaatkan ruang pelonggaran moneter yang ada.
“Kami melihat risiko-risiko global itu manageable, sudah kami perhitungkan dalam perumusan kebijakan, makanya kami kemarin firm bisa kembali menurunkan suku bunga,” ujarnya. (gen)