Pasalnya proses lelang yang sudah memasuki tahap akhir evaluasi final dan pengumuman pemenang, tidak dibarengi dengan pemenuhan hak-hak pekerja oleh dua perusahaan tersebut secara adil.
Indra Kurniawan, Ketua Umum Serikat Pekerja Nasional Chevron Indonesia (SPNCI) membeberkan selama proses penjualan dua aset panas bumi itu berjalan, perusahaan malah memindahkan pekerja dari entitas bisnis lain yaitu Chevron Pacific Indonesia (CPI) dan Chevron Indonesia Company (CICO) ke CGI dan CGS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau jumlah pekerjanya berlebih, kami khawatir saat peralihan kepemilikan nanti justru akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan efisiensi di kemudian hari,” kata Indra, Selasa (25/10).
Pasalnya, pilihan Chevron untuk menjual aset panas buminya di Indonesia merupakan keputusan bisnis manajemen. Di mana pekerja tidak memiliki suara untuk mempengaruhinya.
Satu hal yang menjadi masalah bagi Indra adalah, Chevron akan memberikan pesangon melalui program ‘Reset To Zero’ atau menihilkan masa kerja terhadap pekerja dari CPI dan CICO yang dipindahkan ke entitas CGI dan CGS.
“Sementara pekerja yang dari awal bekerja di CGI/CGS, yang jumlahnya mayoritas tidak akan diberikan pesangon,” keluhnya.
Indra berpendapat, perbedaan perlakuan yang jauh dari rasa keadilan dan kesetaraan ini sangat jelas dampaknya akan menimbulkan ketidakharmonisan hubungan sesama pekerja.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mendapat laporan perihal proses penjualan WKP Darajat dan Gunung Salak oleh Chevron, dengan alasan ingin fokus berbisnis minyak dan gas bumi yang merupakan bisnis inti perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.
Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menuturkan ada enam perusahaan yang bertahan masuk tahap final proses penjualan yang dimulai sejak pertengahan tahun ini. Dari 44 perusahaan yang mengajukan penawaran, disaring oleh Chevron menjadi 14 perusahaan dan akhirnya mengerucut tinggal enam.
"Ke-enam perusahaan tersebut sekarang dalam tahap mengajukan proposal. Mengajukan proposal kan lama, karena kan ada beberapa konsep seperti tenaga kerja, konsep masa depan, hingga konsep ekonominya," ujar Yunus, Selasa (18/10) lalu.
Enam perusahaan tersebut terdiri dari PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi International Tbk, PT PLN (Persero), Mitsui, Marubeni, dan Star Energy. Negosiasi antara peserta lelang dengan Chevron, lanjutnya, akan dilakukan November mendatang.
"Kalau sekarang sih mereka pada tahapan ke-lima, yaitu penerimaan penawaran mengikat (binding bid) dari calon bidder. Keputusan akhirnya mungkin di Januari mendatang," ungkapnya.