Bank Danamon, misalnya, membukukan penurunan kredit sebesar 9 persen dari Rp133,6 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi hanya Rp121,6 triliun paada periode yang sama tahun ini. Penurunan kredit induk usaha Adira Finance dan Adira Insurance tersebut tak terlepas dari perlambatan ekonomi global dan nasional.
“Kredit kepada usaha mikro melalui Danamon Simpan Pinjam turun 29 persen. Lalu kredit mass market melalui Adira Finance yang selama ini menjadi tumpuan juga turun 8 persen, terdampak penjualan industri,” ujar Vera Eve Lim, Direktur Keuangan Danamon, Selasa (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Banyak hal yang sudah kami kerjakan di lini-lini bisnis tersebut. Kami sudah mulai tahun lalu pengembangannya, kami berinvestasi. Kalau sebelumnya kami banyak di mass market, dalam tiga tahun, portofolio bisnis kami akan lebih seimbang,” imbuh Vera.
Parwati Surjaudaja, Direktur Utama OCBC NISP mengakui, sepanjang tahun ini, kondisi pasar penuh tantangan. "Pertumbuhan kredit seiring dengan strategi manajemen resiko yang tepat dan menerapkan prinsip kehati-hatian,” katanya dalam keterangan resminya.
Laba Kinclong
Kendati kredit kedua bank swasta ini mulai melempem, laba bersih yang dikantonginya menanjak drastis. Bank Danamon mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,516 triliun atau meningkat 33 persen kalau dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu, yaitu Rp1,895 triliun.
Menurut Vera, pertumbuhan laba bersih perseroan utamanya ditopang oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional turun enam persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Tak cuma itu, cost to income ratio (rasio biaya terhadap pendapatan) juga hanya 49,1 persen atau menciut ketimbang periode tahun lalu, yakni 53,7 persen,” terang dia.
Sedangkan, OCBC NISP mengantongi laba bersih Rp1,4 triliun hingga kuartal ketiga tahun ini atau naik 28 persen dibandingkan Rp1,1 triliun pada periode yang sama. (ags)