Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso menjelaskan, ongkos produksi listrik bisa lebih efisien bisa ditekan jika menggunakan batu bara dalam negeri. Sehingga, harga listriknya juga bisa lebih murah.
Apalagi menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2016 hingga 2025, pembangkit batu bara akan menghasilkan 43,8 gigawatt (GW) di tahun 2025. Dengan kata lain, PLTU akan mengambil porsi 43,2 persen dari bauran energi (energy mix).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia juga menyayangkan besarnya porsi ekspor yang dilakukan oleh produsen batubara dalam negeri. Ia khawatir jika nantinya perseduaan batu bara untuk PLTU sudah habis ketika dibutuhkan.
"Sebetulnya, cadangan batu bara nasional itu sangat tergantung pada pemakaian kami. Kalau nanti dipakainya besar, nanti akan habis juga kok," ujarnya.
Sementara itu, Menteri ESDM, Ignasius Jonan mengatakan telah mendengar langsung permintaan dari PLN terkait penambahan DMO batu bara bagi ketenagalistrikan. Namun, ia tak mau gegabah dalam menyetujui keinginan itu.
"Saya bilang kepada PLN, bikin dulu policy paper. Kalau memang DMO diperbesar, harus jelas. Berapa perthitungannya, harga listrik bisa murah berapa," tutur Jonan.
Di sisi lain, Deputi Direktur Eksektif Asosiasi Produsen Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menjelaskan, pengusaha sebetulnya ingin berpartisipasi di dalam pemenuhan pasokan PLTU. Ia beralasan, tak selamanya pasar ekspor selalu menjanjikan karena harganya yang selalu berfluktuasi.
Kendati demikian, implementasi ini selalu terhalang dengan keinginan PLN yang menginginkan harga batu bara yang murah. Sementara itu, pengusaha pasti akan selalu memikirkan profitabilitas dari alokasi produksi bagi pasokan PLTU.
Padahal, PLN merupakan pengguna batu
"Dengan PLN, pasti ada selalu tarik menarik. Mereka ingin harga yang lebih rendah, sementara kita butuh kepastian. Mungkin tidak, kalau jualan ke PLTU bisa lebih untung dibanding ekspor?" ujar Hendra kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/10).
Sebagai informasi, alokasi batu bara bagi dalam negeri pada tahun lalu tercatat 87,43 juta ton atau naik 14,4 persen dibanding tahun sebelumnya, 76,18 juta ton. Sementara itu, realisasi DMO pada tahun ini diperkirakan di atas 90 juta ton. (gir/gen)