Ketua Umum ASPSI, Agus Warsito menuturkan, minimnya daya tawar peternak disebabkan oleh struktur pasar yang tidak sempurna, di mana hanya ada satu pembeli susu segar dari peternak, yakni industri pengolahan. Karena struktur pasar yang berbentuk oligopsoni, industri bisa mengenakan harga seenaknya. Sementara itu, peternak mau tak mau menerima harga tersebut agar susu produksinya terserap.
"Posisi bargaining peternak sangat rendah, buyer yang sangat dominan menentukan harga dari peternak. Sehingga tidak ada pilihan lain," ujar Agus, Selasa (8/11)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menilai, harga tersebut tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Menurut kalkulasinya, satu ekor sapi bisa menghasilkan 16 liter susu per hari dengan pendapatan Rp72 ribu. Sementara itu, biaya pakan yang dikeluarkan per ekornya mencapai Rp58 ribu. Sehingga, terdapat keuntungan Rp14ribu per ekornya.
Ia melanjutkan, kondisi ini akan sangat merugikan peternak skala kecil yang berkontribusi 85 persen terhadap produksi Susu Segar Dalam negeri (SSDN). Bahkan menurutnya, ongkos produksi peternak skala kecil bisa lebih mahal dibanding peternak sapi skala menengah.
"Karena ada komponen seperti tenaga, rumput, dan detil lain yang tidak dimasukkan ke dalam cost produksi, karena pengelolaan mereka itu bentuknya rumah tangga. Mereka memang mengaku masih bisa bertahan hidup, tapi kalau unsur cost ini dimasukkan, mereka tidak untung," jelasnya.
Maka dari itu, ia meminta pemerintah melakukan regulasi yang protektif seperti memberlakukan jumlah produksi tertentu yang bisa diserap industri. Dengan hal ini, ia yakin daya tawar peternak bisa lebih tinggi dan bisa menaikkan harga jual susu sapi peternak yang ideal, yaitu Rp7 ribu per liter.
Kendati daya tawar naik, ia mengatakan seharusnya industri susu bisa tidak menaikkan harga jual produksinya. Ia mengklaim, masih ada sisa margin yang cukup tinggi yang bisa diraih industri pengolahan susu.
"Karena selama ini kan mereka juga pakai susu bubuk (Skim Powder) yang harganya sekarang menurun. Tapi harga bahan baku menurun, mereka tidak mau menurunkan harga jualnya kok," lanjut Agus.
Sekretaris Jenderal perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia, Rochadi Tawaf juga menyayangkan kondisi tersebut. Apalagi, industri pengolahan susu kini semakin banyak menggunakan bahan baku impor, sehingga keberadaan ternak sapi perah makin terancam.
Sebagai informasi, populasi sapi nasional mencapai 525.171 ekor dengan produksi sapi 805 ribu ton di tahun 2015. Sementara itu, konsumsi susu per kapita Indonesia tercatat 12,87 liter, di mana angka ini lebih kecil dibanding Malaysia sebesar 52,35 liter per kapita dan India sebesar 47,74 liter. (gir/gen)