Sebelumnya, Presiden Jokowi menunda kunjungan ke Sydney dan Canberra, di mana salah satu agendanya adalah temu bisnis.
Namun, hal itu tidak menyurutkan antusiasme para investor dan pelaku usaha di Australia untuk bertemu dengan Kepala BKPM dan Menteri Perdagangan dalam acara Afternoon Tea dan Business Gathering “State of The Nation: Update on Trade and Investment in Indonesia” yang diadakan 7 November 2016 di Intercontinental Hotel, Sydney.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas menyatakan Pemerintah Indonesia akan terus melakukan reformasi ekonomi, perubahan mindset atau revolusi mental dalam birokrasi, deregulasi peraturan untuk lebih banyak menarik investasi, serta mendukung keberhasilan tax amnesty.
Selain itu, Tom juga berusaha meyakinkan para pelaku usaha yang hadir bahwa demonstrasi yang terjadi pada hari Jumat lalu tidak terkait dengan ras, suku, ataupun agama.
“Presiden Jokowi merupakan sosok paling reformis selama 15 tahun terakhir. Berbagai kegaduhan yang sempat terjadi kemarin adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah proses evolusi." katanya.
Thomas juga menjelaskan mengenai komitmen pemerintah dalam negosiasi perjanjian Indonesia -Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA – CEPA) dengan target penyelesaian akhir 2017 yang fokus tidak hanya pada industri peternakan sapi dan infrastruktur, namun juga termasuk jasa seperti fashion, pariwisata, kesehatan, olahraga dan pendidikan/pelatihan kerja yang sama-sama saling melengkapi antara kedua negara.
Adapun, panelis pada acara tersebut adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kepala BKPM Thomas Lembong, Duta Besar RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema, dengan Chairman Asia Society’s Australia Center Doug Ferguson selaku Moderator.
BKPM mencatat, realisasi investasi dari Australia periode Januari-September 2016 mencapai US$145,6 juta terdiri dari 542 proyek. Posisi tersebut menempatkan Australia di peringkat 16 teratas dari sumber investasi yang masuk ke Indonesia. (gir/gen)