"Saya melihat sepertinya The Fed tidak menaikkan suku bunga di akhir Desember. Tapi kalau Trump betul-betul menjalankan (kebijakannya), membuat suku bunga (berpotensi) meningkat," ungkap Chatib dalam UOB Economic Outlook, Rabu (16/11).
Bendahara negara di era pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu bilang, potensi kenaikan The Fed kian besar bila Trump sukses menjalankan ekspansi fiskal dengan memotong pajak dan meningkatkan belanja AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, bila pemenang Pemilihan Presiden (Pilpres) AS ke-45 dari Partai Republik tersebut berhasil menjalankan kebijakan proteksi perdagangan, bukan tidak mungkin kian memberi sentimen negatif bagi Indonesia dari sektor perdagangan.
"Pembeli terbesar di dunia adalah AS, Uni Eropa, dan China. Uni Eropa dan China punya masalah, ada perlambatan, sekarang AS juga akan menerapkan proteksi. Maka perdagangan dunia akan menurun bahkan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi global," kata Chatib.
Dampak proteksi perdagangan AS akan membuat negara-negara yang selama ini melakukan ekspor ke AS menjadi turun nilai ekspornya.
Namun begitu, Chatib meramalkan, setidaknya Trump membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan untuk menunjukkan hasil pengelolaannya dibidang ekonomi.
Oleh karena itu, Indonesia sendiri juga masih memiliki waktu untuk mengubah peta tujuan ekspor dan menggenjot sektor lain untuk menggerakkan roda perekonomian. (gir/ags)