Menurut data statistik OJK per 30 September 2016, tercatat total aset perbankan syariah telah mencapai Rp331,76 triliun atau tumbuh 17,58 persen (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp263,52 triliun atau tumbuh 20,16 persen, serta pembiayaan sebesar Rp235,01 triliun yang tumbuh 12,91 persen (yoy). Saat ini pangsa pasar aset perbankan syariah terhadap perbankan nasional telah mencapai 5,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan tahun depan perbankan syariah nasional membidik aktivitas ekonomi domestik melalui usaha kecil mikro dan menengah (UMKM), di samping optimalisasi pengelolaan dana haji dan umrah masyarakat.
Tahun depan, Putu memperkirakan ada sejumlah bank konvensional yang beralih prinsip menjadi BUS, dengan potensi mencapai Rp8 trliliun. Ditambah ekspansi pembiayaan ke sejumlah segmen seperti Modal Kerja UKM dan multiguna yang masing-masing nilainya mencapai Rp5 triliun dan Rp5 triliun-Rp7 triliun.
"Tahun depan juga diperkirakan ada ekspansi pembiayaan mikro sebesar Rp8 triliun, ekspansi di properti dan kendaraan roda dua dan roda empat itu ada sekitar Rp8 triliun-Rp12 triliun. Itu yang diperkirakan mampu mendorong bisnis perbankan syariah di tahun depan," ujarnya.
Sementara itu dari rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Finance/NPF), kinerja pembiayaan perbankan syariah nasional diperkirakan masih tetap menghadapi tantangan.
Per September tahun ini NPF perbankan syariah nyaris mencapai 5 persen yakni 4,7 persen. Angka tersebut cenderung turun jika dibandingkan dengan angka bulan Agustus sebelumnya yang mencapai 4,9 persen.
Ahmad K. Permana berharap, pertumbuhan volume pembiayaan tahun depan bisa meningkat sehingga bisa menekan angka pembiayaan yang bermasalah dalam perhitungan rasio NPF.
"Kami berharap tahun depan bisa tetap di bawah 5 persen," jelasnya.