Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan, langkah ini dipilih agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tak terbebani akibat membayar cost recovery kepada Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) setiap tahun. Dengan skema ini, diharapkan pro kontra mengenai cost recovery bisa selesai.
Sebagai informasi, gross split adalah sistem bagi hasil di mana pemerintah tidak usah membayar cost recovery. Namun, sebagai konsekuensinya, jatah bagi hasil pemerintah menjadi lebih kecil di dalam bagi hasil (split) produksi migas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, skema ini nantinya akan berlaku untuk PSC baru. Sementara itu, pemerintah berupaya mencari jalan untuk menyusun peraturan peralihan bagi PSC yang tengah berjalan.
Melengkapi ucapan Jonan, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan, cost recovery bukanlah satu-satunya konsiderasi di dalam penerapan skema bagi hasil gross split. Menurutnya, sistem ini dianggap lebih cepat, lebih efisien, dan lebih sederhana prosesnya.
Di samping itu, skema gross split ini juga mengikuti sistem bagi hasil di dalam pengelolaan migas non konvensional melalui Permen ESDM Nomor 38 tahun 2015. Sehingga, ia yakin skema ini bisa membawa angin segar bagi investasi migas.
"Kami harapkan sih seperti itu. Dulu sistem Indonesia sempat seperti itu kan. Selain itu, banyak negara berhasil menerapkan skema gross split seperti China dan negara-negara Afrika," terang Wiratmaja.
Kendati demikian, ia tak bisa memastikan kapan beleid ini terbit. Ia hanya mengatakan bahwa saat ini masih dilakukan proses finalisasi.
"Permen-nya sedang kami bahas, Insya Allah bisa segera rampung," tuturnya.
Sebagai informasi, pembayaran cost recovery oleh negara kepada KKKS tahun 2015 tercatat US$13,9 miliar, atau lebih tinggi dibanding Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas tahun lalu tercatat di angka US$12,86 miliar.
Selain itu, pemerintah menganggarkan cost recovery sebesar US$8,5 miliar pada tahun ini dan masuk di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Penyesuaian (APBNP) 2016. Angka ini kemudian meningkat US$10,4 miliar pada 2017 mendatang. (gen)