Dengan angka depresiasi nilai tukar sebesar 3,67 persen antara 8 November hingga 25 November 2016, posisi Indonesia lebih baik ketimbang Malaysia yang minus 6,32 persen, Afrika Selatan minus 7,01 persen, hingga Turki minus 9,45 persen.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu, Suahasil Nazara mengaku, pergerakan rupiah beberapa hari terakhir disebabkan oleh kencangnya arus modal keluar (capital outflow), dan tercermin di dalam pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 6,5 persen pada periode yang sama. Menurutnya, hal itu terjadi akibat rencana kebijakan fiskal ekspansif yang diterapkan oleh Presiden terpilih AS, Donald Trump dan membuat investor melarikan uangnya ke negara Paman Sam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Indonesia tetap perlu mewaspadai beberapa kejadian eksternal yang berpotensi menimbulkan gejolak nilai tukar seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan kondisi geopolitik dunia lanjutan. Di antara seluruh sentimen eksternal tersebut, Suahasil mewaspadai kebijakan negara-negara lain terkait perdagangan karena mempengaruhi permintaan dan penawaran (demand-supply) rupiah.
Pasalnya, ekspor Indonesia di tahun depan diperkirakan belum akan membaik karena harga beberapa komoditas diprediksi masih akan melemah. Oleh karenanya, pemerintah sangat mengawasi dampak kebijakan proteksionisme ala Donald Trump dan perbaikan ekonomi China, mengingat negara tirai bambu tersebut adalah mitra ekspor terbesar Indonesia.
Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor non-migas Indonesia ke China hingga kuartal III 2016 mencapai US$9,7 miliar. Angka ini mengambil porsi 10,25 persen dari total ekspor Indonesia sebesar US$94,7 miliar di periode tersebut.
“Kami memahami bahwa harga komoditas belum akan naik secara signifikan. Oleh karenanya, ekspor masih belum bisa berkontribusi banyak terhadap pertumbuhan ekonomi. Ke depan, kami tetap mewaspadai kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi China,” tandas Suahasil.
Menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah pada tanggal 25 November 2016 tercatat Rp13.570 per dolar AS. Angka ini melemah 4,09 persen, atau Rp534 apabila dibanding posisi pada 1 November 2016 dengan angka Rp13.036 per Dollar AS. (rel/vws)