Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja menyebut delegasi Iran menyatakan siap membangun satu kilang secara mandiri, sementara satu kilang lainnya melalui kerjama dengan PT Pertamina (Persero).
“Satu kilang akan dibangun melalui badan hukum swasta, sementara Kilang Bontang harus bekerjasama dengan Pertamina,” kata Wiratmaja, dikutip dari laman Kementerian ESDM, Senin (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Besaran kapasitas kilang yang ingin dibangun Iran, berkisar antara 100 ribu hingga 300 ribu barel per hari. Nanti supply crude-nya dari mereka,” tambahnya.
Menurut Arcandra, percepatan pembangunan kilang Bontang diperlukan karena utilisasi kilang nasional tidak bisa memenuhi permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Menurut dia, utilitas kilang nasional saat ini hanya 800 ribu barel per hari, sementara kebutuhan BBM setiap harinya mencapai 1,6 juta barel.
Lebih lanjut ia menuturkan, proses skema penugasan langsung bisa lebih cepat 1,5 tahun dibanding skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pasalnya, identifikasi KPBU membutuhkan waktu dua tahun. Sementara, pemilihan mitra Pertamina di dalam penugasan langsung cuma 5-8 bulan.
"Arahnya penugasan langsung ini kan dengan pertimbangan percepatan pembangunan. Kalau dibandingkan KBPU, InsyaAllah, secara teori prosesnya bisa dipercepat. Untuk proses pengadaan, kemitraan dengan siapa, cari investor bagaimana, kan bisa dipercepat selama delapan bulan," tutur Arcandra.
Kilang Bontang merupakan proyek strategis nasional yang dilakukan dengan skema KPBU menurut Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016. Kilang GRR Bontang rencananya akan berkapasitas 300 ribu barel per hari.