Sebagai bukti, hari ini (28/11), Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan perdagangan tercatat jual bersih (net sell) sebesar Rp309,3 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pesimistis suku bunga kredit perbankan bisa mencapai satu digit tahun ini. "Terjadi capital outflow sehingga likuditas agak lebih ketat. Kalau likuiditas ketat, tingkat bunga, walaupun tidak naik, tidak akan turun lagi," ujarnya, Senin (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Perdede menilai, sampai akhir tahun, likuiditas perbankan cukup ketat karena sudah mendekati batas atas rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang dipatok 92 persen.
"Kami melihat, rasio LDR sekarang sekitar 90 persen sampai 91 persen. Jadi, sudah mendekati level atas," kata Josua secara terpisah.
Kendati demikian, Josua menjelaskan, penempatan simpanan perbankan di instrumen Bank Indonesia cukup besar. Data terakhir mencapai lebih dari Rp300 triliun.
"Karena ekonomi dalam negeri masih belum pulih, penyaluran kredit perbankan juga tidak berjalan. Akibatnya, dana perbankan banyak ditempatkan di instrumen BI," imbuhnya.
Presiden Joko Widodo sejak awal tahun terus mendorong agar suku bunga kredit bisa turun hingga satu digit. Hal itu dilakukan untuk menggerakkan permintaan kredit masyarakat.
Menjawab hal itu, BI sejak awal tahun telah melakukan upaya pelonggaran moneter. Salah satunya dengan mengubah haluan suku bunga acuan dari BI rate menjadi BI 7 Days Reverse Repo Rate dengan tingkat acuan terakhir di level 4,75 persen.
Namun, hingga akhir Oktober. sejumlah bank masih menawarkan kredit dengan bunga dua digit untuk segmen tertentu, di antaranya segmen kredit mikro, kredit korporasi serta kredit pemilikan rumah (KPR). (bir/gen)