Head of Corporate Communication Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana menjelaskan permintaan alokasi gas sudah disampaikan ke Kementerian ESDM pada bulan Oktober lalu. Penambahan alokasi gas ini disebabkan karena perubahan di dalam rencana bisnis perusahaan.
Pada awalnya, perusahaan ingin membangun pabrik pupuk urea di kawasan tersebut. Namun, melihat kondisi pasar pupuk internasional yang kelebihan suplai, proyek tersebut menjadi kurang prospektif. Sehingga, di dalam rencana bisnis yang baru, Pupuk Indonesia berniat untuk mengembangkan industri petrokimia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam rencana bisnis baru perusahaan, ia menyebut bahwa proyek Teluk Bintuni akan dibangun dalam dua tahap.
Agar proyek itu bisa berjalan, Pupuk Indonesia meminta alokasi gas sebesar 130 MMSCFDi, atau lebih banyak dibanding permintaan alokasi sebelumnya yaitu 124 MMSCFD.
Kendati demikian, harga gas yang diminta masih tetap sama, yaitu US$3 per MMBTU. Harga ini dibutuhkan untuk mendukung keekonomian proyek tersebut, sesuai kajian perusahaan dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Perindustrian.
"Untuk mendukung keekonomian proyek, kami juga berharap dukungan pemerintah dalam membangun infrastruktur kawasan," tambahnya.
Rencananya, Kawasan Industri Teluk Bintuni ini akan dibangun di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat dengan luas lahan 2.112 Hektare. Sebagai pengelola kawasan industri, Pupuk Indonesia juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan melibatkan anak-anak perusahaan yang bergerak dibidang utilitas dan logistik seperti PT Pupuk Indonesia Energi dan PT Pupuk Indonesia Logistik.
Sebagai informasi, Kawasan Industri Teluk Bintuni masuk sebagai satu dari 14 kawasan industri prioritas Kemenperin.
Selain Teluk Bintuni, kawasan industri lain yang jadi prioritas antara lain Buli di Maluku Utara, Morowali dan Palu di Sulawesi Tengah, Bitung di Sulawesi Utara, Bantaeng di Sulawesi Selatan, Konawe di Sulawesi Tenggara, Batulicin dan Jorong di Kalimantan Selatan, Ketapang dan Landak di Kalimantan Barat, Sei Mangkei dan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, dan Tanggamus di Lampung. (gir/gen)