Direktur Eksekutif Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung mengungkapkan, penerapan GWM rata-rata tidak akan langsung dilakukan secara penuh (full). Menurut dia, GWM akan dilakukan secara parsial, di mana 20 persen dari GWM yang disetor perbankan akan dihitung dengan rata-rata setiap dua pekan sekali.
Atau dengan kata lain, GWM secara rata-rata nantinya memberi andil 1,5 persen terhadap GWM secara total sebesar 6,5 persen. Di sisi lain, perbankan masih harus memenuhi sisa 4,5 persennya dengan skema fixed per harinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menjelaskan, tak menutup kemungkinan jika nantinya GWM rata-rata akan dilakukan secara menyeluruh jika GWM parsial dikatakan berhasil. Kendati demikian, ia belum tahu kapan tepatnya GWM full averaging bisa diterapkan.
"Karena, memang, tujuan GWM averaging untuk membuat likuiditas lebih fleksibel. Jika volatilitas suku bunga PUAB ditekan, maka GWM bisa dibilang berhasil. Nanti kami akan kaji lagi, apakah GWM secara parsial bisa berhasil. Jika iya, mungkin kami akan lakukan GWM full averaging," jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Indonesia bisa mencontoh dari beberapa negara yang telah mengimplementasikan GWM full averaging, baik negara-negara yang memiliki kebijakan (stance) moneter ekspansif maupun kontraksi. Beberapa negara tersebut diantaranya adalah Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, Jepang, Thailand, hingga Peru.
Namun, banyak tantangan bagi BI sebelum memutuskan untuk melakukan GWM full averaging. Salah satu di antaranya adalah ketersediaan instrumen pendukung pasar uang, mengingat perbankan pasti tergugah untuk melakukan transaksi repo demi memenuhi porsi GWM primer yang direratakan.
Di samping itu, kemampuan setiap bank untuk mengakses transaksi di pasar uang juga harus seimbang. Pasalnya, implementasi GWM averaging harus diberlakukan untuk semua bank, dari mulai kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I hingga IV.
"GWM averaging ini bertujuan untuk memperdalam pasar keuangan. Sehingga tantangan-tantangan ini perlu dihadapi agar implementasinya semakin baik," pungkasnya. (bir)