"Seluruhnya dari pungutan, termasuk juga denda-denda dan izin," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mengutip ANTARA, Senin (5/12).
Anggaran tersebut naik 11 persen dibanding anggaran OJK 2016 yang sebesar Rp3,93 triliun. Pada 2016 atau tahun ini, anggaran OJK juga naik 6,1 persen dibanding 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nelson mengatakan, kenaikan anggaran pada 2017 dikarenakan OJK harus membayar sepenuhnya gaji dan tunjangan pegawai pindahan dari Bank Indonesia (BI), yaitu sebanyak 750 orang.
Selain itu, tahun depan, kata Nelson, OJK juga akan menambah jumlah pegawai sekitar 330 orang, untuk mengisi kekosongan pegawai yang memutuskan untuk kembali ke BI.
"Jadi, memang anggaran terbesar di Sumber Daya Manusia (SDM)," imbuh dia.
Meskipun anggaran naik, rasio pungutan yang dibebankan kepada industri jasa keuangan tidak berubah, yakni tetap 0,045 persen dari aset perusahaan untuk satu tahun.
Jika pungutan yang diterima OJK bertambah, itu karena nilai aset industri jasa keuangan yang meningkat. "Rasio pungutan tidak berubah," terangnya.
Selain untuk SDM, Nelson melanjutkan, penambahan anggaran juga diperlukan untuk rencana menambah kantor perwakilan di masing-masing provinsi.
"Itu masih dijajaki. Memang, ada rencana setiap provinsi memiliki kantor perwakilan OJK," imbuhnya.
Anggota Komisi XI Hendrawan Supratikno mengatakan, komisi akan mempertimbangkan pengajuan OJK berdasarkan tiga acuan.
Acuan pertama, kesesuaian asumsi pertumbuhan industri jasa keuangan dari OJK dengan realisasinya. Kedua, efektivitas program OJK untuk peningkatan efisiensi industri keuangan.
"Ketiga, kami juga melihat fungsi legislasi baru yang dibutuhkan OJK," tutupnya. (bir)