Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang mengatakan, kedua produk itu dipilih karena permintaannya akan meningkat di masa depan. Apalagi, kedua teknologi ini akan sangat membantu masyarakat di pulau-pulau terpencil dan jauh dari akses listrik.
"Solar cell dan baterai ini bisa digunakan untuk penerangan jalan dan membantu rumah penduduk yang berada di remote area. Sedangkan baterai listrik bisa untuk mobil atau motor listrik. Ini bukan sekadar diversifikasi, tapi bisnis EBT justu menguatkan Pertamina sebagai perusahaan energi," ujar Ahmad, Rabu malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan jajaki dengan partner, karena kami tidak mau mulai dengan riset awal dan produksi baterai dari nol. Jika dengan proses seperti itu, Pertamina akan ketinggalan jauh. Lebih baik cari mitra untuk bangun pabrik di sini," tambahnya.
Di masa depan, tambah Ahmad, ada beberapa hal yang bisa membuat konsumsi BBM menurun. Pertama, adalah munculnya teknologi yang makin efisien dan berujung pada penciptaan teknologi alternatif. Apalagi, generasi milenial dipandang sangat peduli dengan lingkungan.
"Kalau ini tidak bisa kami antisipasi, kami takut nasib Pertamina akan seperti PT Pos Indonesia (Persero) yang dulu berjaya dengan wesel dan kartu pos, sekarang kalah dengan teknologi. Makanya, 2017 Pertamina harus masuk ke energi baru terbarukan," ujarnya. (gir)