Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 118,68 poin atau 0,6 persen ke 19.792,53, indeks S&P 500 kehilangan 18,44 poin atau 0,81 persen ke 2.253,28. Sementara indeks Nasdaq Composite turun 27,16 poin atau 0,5 persen ke 5.436,67.
Seperti dilansir dari Reuters, saham energi menjadi pemberat utama dalam indeks S&P 500 setelah penurunan tajam harga minyak mentah AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua The Fed Janet Yellen mengindikasikan bahwa bank sentral itu beradaptasi dengan kebijakan Trump, karena beberapa anggota komite mulai menggeser asumsi kebijakan fiskal untuk pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih cepat dan pengangguran yang lebih rendah.
"Yellen tampaknya meredam harapan tentang kesediaannya untuk membiarkan itu terjadi. Jika Fed terlihat kurang bersedia untuk membiarkan perekonomian memanas, maka pasar akan bereaksi," kata Brian Jacobsen, Kepala Strategi Portofolio Wells Fargo Funds Management di Menomonee Falls, Wisconsin.
Pasar telah menyesuaikan diri dengan kenaikan suku bunga oleh The Fed. Namun kenaikan yang lebih cepat dari perkiraan di tahun depan dapat memberikan pedagang alasan untuk melakukan aksi ambil untung.
Sejak pemilihan presiden AS pada 8 November lalu, bursa saham telah menguat karena spekulasi bahwa kebijakan Trump yang ramah bisnis diharapkan merangsang ekonomi. Namun, beberapa pelaku pasar khawatir bahwa harga saham berada dalam skenario yang sangat menguntungkan, sehingga menjadi rentan.
Adapun dolar AS menguat di seluruh papan perdagangan uang, indeks dolar mencapai tingkat tertinggi dalam hampir 14 tahun, yang membebani harga minyak dan komoditas lainnya dalam mata uang AS.