Di sisi lain, meski dampak dari kenaikan suku bunga pada ekonomi AS akan diabaikan, negara pasar berkembang dengan kebutuhan dana eksternal yang besar dan ketidakseimbangan makroekonomi bakal rentan terhadap arus keluar modal.
Moody's memprediksi The Fed mengerek lagi suku bunga acuan pada kecepatan yang sangat bertahap, dengan dua sampai tiga tingkat kenaikan. Hal itu diproyeksi mendorong suku bunga The Fed menjadi sekitar 1,25 persen menjadi 1,5 persen pada akhir 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, karena jatuh tempo US Treasuries yang beredar rata-rata relatif singkat, maka beban bunga AS akan naik relatif cepat, dengan meningkatnya suku bunga The Fed dan jika ekspektasi inflasi meningkat lebih lanjut."
"Dampak dari suku bunga The Fed yang lebih tinggi kemungkinan akan lebih terlihat di beberapa negara emerging market daripada di AS," kata Madhavi Bokil, Wakil Presiden dan Analis Senior Moody's di New York.
"Dampak langsung akan dirasakan di negara dengan ekonomi yang memiliki kebutuhan pembiayaan eksternal relatif tinggi, dari pendapatan devisa," jelas Madhavi.
Misalnya, dalam beberapa kasus, depresiasi mata uang bisa menyebabkan inflasi lebih tinggi, yang bersama dengan ancaman arus keluar modal berkelanjutan. Hal itu bisa memaksa bank sentral lain untuk menaikkan suku bunga. (gir)