Penarikan pinjaman juga tak terlepas dari ketatnya likuiditas bank daerah milik pemda Jateng tersebut. "Isunya adalah BPD itu kebanyakan harus menghadapi isu likuiditas di akhir tahun," tutur Supriyatno, Direktur Utama Bank Jateng setelah menandatangani kesepakatan dengan BCA, Rabu (21/12).
Kesepakatan Bank Jateng dengan bank swasta nomor wahid tersebut, menurutnya, penuh manfaat, karena tidak perlu berlama-lama mencairkan pinjaman ketimbang harus merilis surat utang (obligasi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supriyatno menerangkan, pinjaman tersebut digunakan untuk mengganti ketersediaan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang banyak jatuh tempo jelang pergantian tahun ini.
Sebagai informasi, tahun ini, Bank Jateng menargetkan pertumbuhan portfolio kredit di sektor produktif bisa mencapai 30-32 persen. Angka tersebut dipatok berdasarkan kenyataan masih tingginya permintaan kredit produktif jika dibandingkan dengan kredit konsumsi.
"Dengan tambahan Rp1 triliun, bisa kami gunakan untuk pembangunan infrastruktur. Sekarang, Bank Jateng sedang gencar mengejar pembangunan jalan tol, perumahan. Tentunya, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga kita perhatikan," katanya.
Supriyatno menambahkan, dengan tambahan modal tersebut, perseroan juga akan terus fokus untuk memperluas pelayanan di wilayah Jawa Tengah. Saat ini, Bank Jateng telah memiliki 36 kantor cabang, 113 kantor cabang pembantu, serta 149 kantor kas yang tersebar di seluruh Jawa Tengah. (bir/gen)