Executive Vice President, Upstream, Chevron Corporation Jay Johnson menjelaskan anak-anak usahanya di dua negara tersebut telah menandatangani kontrak jual beli aset panas bumi dengan konsorsium yang beranggotakan Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (afiliasi Ayala Group Philippines) dan EGCO dari Thailand. Penandatanganan sendiri kontrak dilakukan pada hari ini.
Seperti diketahui dua aset panas bumi Chevron di Indonesia yang dalam enam bulan terakhir menjalani proses lelang adalah lapangan panas bumi Darajat dan Gunung Salak di Jawa Barat. Tidak disebutkan berapa duit yang harus dibayarkan Star Energy untuk menebus dua aset Chevron tersebut, yang diperkirakan bernilai US$3 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasca akuisisi tersebut, kepemilikan dua wilayah kerja panas bumi (WKP) Darajat dan Gunung Salak mayoritas dikempit Star Energy Geothermal yakni 68,31 persen, sedangkan AC Enegry sebesar 19,3 persen dan EGCO 11,89 persen.
Akuisisi ini menjadi bagian dari upaya Star Energy menjadi pemain listrik panas bumi besar. Di mana perusahaan menargetkan bisa menjadi operator listrik panas bumi dengan kapasitas 600 MW pada 2028 nanti.