Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina menjelaskan selain membangun pipa, tahun ini perusahaan tempatnya bekerja juga telah menyelesaikan pembangunan 89.300 sambungan gas rumah tangga (SR).
“Hingga akhir September 2016, Pertamina telah menyeleswaikan sejumlah proyek infrastruktur gas. Antara lain pipa transmisi Belawan-KIM-KEK, tujuh SPBG-APN di Depok, Subang Kota, Subang wilayah Pantai Utara, Citeuruep, Cirebon, Bogor, dan Balikpapan serta jaringan gas di Bulungan, Bekasi, Lhokseumawe, Lhoksukon, Pekanbaru, dan Sidoarjo II,” ujar Wianda, Jumat (30/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pengembangan infrastruktur gas ini juga ditopang oleh transportasi gas. Hingga September 2016, Pertamina telah merealisasikan transportasi sebanyak 393,22 bscf dari sepanjang tahun lalu 531 BSCF. Sedangkan niaga gas atau total gas sales mencapai 529,93 BBT dan regasifikasi LNG sebesar 21.925,06 BSCF,” jelasnya.
Selain itu, Wiratmaja menyebut kebutuhan gas ke depan akan terus meningkat. Selain untuk listrik gas juga dibutuhkan oleh pabrik (industri) yang mulai banyak beralih dari BBM ke BBG.
“Pembangunan infrastruktur gas, menjadi penting dalam memicu pertumbuhan ekonomi yang merata,” katanya.
Ibrahim Hasyim, Komisioner Badan Pengatur Hilir Migas, menilai Pertamina sangat serius dalam pengembangan infrastruktur energi karena sesungguhnya semua mata rantai pasok energi juga merupakan unit usaha. Apalagi transportasi dan penyimpanan adalah infrastruktur yang open access.
“Dalam kondisi infrastruktur itu masih minim di Indonesia, investasi itu bisa untuk menunjang bisnis sendiri, juga bisa untuk unit usaha,” katanya. (gen)