"Memang sudah mulai terasa dampaknya, di akhir tahun penyaluran KPR sudah agak meningkat," ujar Direktur Konsumer BRI Sis Apik Wijayanto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (4/1).
Per kuartal III 2016, BRI berhasil menyalurkan KPR hingga Rp17 triliun. Dampak kebijakan LTV tersebut diharapkan manajemen BRI mampu membawa nilai KPR-nya tumbuh dua digit seperti tahun 2015 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, BNI masih tetap memacu pertumbuhan KPR dengan harga rumah Rp400 juta hingga Rp600 juta karena pangsa pasarnya paling besar. Tahun ini, BNI memasang target pertumbuhan KPR sebesar 10-11 persen.
Kenaikan tersebut bersumber dari peningkatan pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) serta kredit konstruksi.
Hal ini sejalan dengan kebijakan pelonggaran LTV dari 80 persen menjadi 85 persen yang dilakukan oleh BI dan berlaku sejak 29 Agustus 2016.
Seperti diketahui, setelah masa booming, industri properti mulai mengalami perlambatan sejak September 2013, setelah BI mengeluarkan aturan pengetatan LTV.
Pada Agustus 2013, pertumbuhan KPR & KPA sangat pesat yakni mencapai 30,7 persen yoy. Namun, kemudian terus mengalami perlambatan hingga 2016.
Penyebabnya adalah permintaan yang tertekan karena penerapan aturan LTV, tren suku bunga yang masih tinggi, dan kondisi ekonomi domestik yang juga melambat.