Analis JP Morgan, Adrian Mowat menyatakan, setelah dua bulan, pihaknya membalikkan sebagian alokasi taktis. Hal itu dilakukan setelah kenaikan imbal hasil obligasi dan penarikan dana (redemption) besar di pasar negara berkembang (emerging markets) yang dikhawatirkan akhirnya terjadi.
"Penurunan rating taktis kami dua bulan lalu didorong oleh risiko Indonesia yang kinerjanya tertinggal dari Asia Pacific selain Jepang dan pasar negara berkembang memberikan indikasi investor mengatur ulang risiko investasi. Dalam pandangan kami, penarikan dana dan volatilitas risiko obligasi sekarang telah ditinggalkan," jelasnya dalam riset, Senin (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia menjelaskan faktor perubahan alokasi aset taktis pada 13 November 2016 lalu adalah nilai pasar obligasi yang tumbuh lebih cepat dan berpotensi lebih tinggi pasca kejutan defisit anggaran AS dengan kemenangan Donald Trump di Pemilu AS.
Belum lagi, pemerintah mencatat perilaku serupa telah dilakukan JP Morgan dalam beberapa kali. Akhirnya Sri Mulyani resmi memutus kontrak JP Morgan sebagai diler utama penjual Surat Utang Negara (SUN) dan JP Morgan baru bisa kembali menjadi rekan pemerintah setidaknya 12 bulan usai pencabutan kontrak.