Dikutip dari Reuters, Dolar AS turun mendekati titik terendah dalam enam pekan terakhir setelah Presiden AS terpilih, Donald Trump, mengatakan bahwa penguatan mata uang negaranya merusak daya saing AS.
Lemahnya mata uang tersebut membuat pembelian minyak yang menggunakan denominasi Dolar AS lebih murah dibanding mata uang negara lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dorongan terhadap peningkatan harga minyak juga terdapat dari komitmen pemangkasan produksi Arab Saudi, yang merupakan eksportir minyak terbesar OPEC.
Namun, penguatan harga minyak tertahan oleh prediksi meningkatnya produksi minyak AS dan Rusia. Selain itu, sejumlah analis ragu bahwa pemangkasan produksi benar-benar dijalankan oleh seluruh anggota OPEC.
Pemerintah AS mengatakan, perusahaan minyak di negara Paman Sam tersebut terpacu untuk menambah pengeboran setelah produksi minyak non-konvensional AS diprediksi menurun pada bulan Februari mendatang.
Di sisi lain, produksi minyak Rusia diperkirakan mencapai rekor tertinggi pasca kesepakatan OPEC selama enam bulan berakhir.